Gunungkidul, Yogyakarta | KabarSriwijaya.NET — Tato, rambut spike, dan jaket denim penuh emblem biasanya identik dengan deru musik distorsi di panggung bawah tanah.
Namun, di Padukuhan Kalangan, Kalurahan Ngipak, Kapanewon Karangmojo, Gunungkidul, stereotip itu luruh di atas tanah berlumpur.
Sekumpulan pemuda yang menamakan diri Petani Punk memilih jalan pemberontakan baru: mencangkul bumi dan menanam pangan sehat.

Gerakan ini lahir tahun 2018 dari keresahan Pratisna Sibag. Di tengah ancaman krisis regenerasi petani, ia mematok prinsip hidup yang radikal bagi komunitasnya:
“Jangan mati sebelum bertani.” Langkah awal mereka terbilang nekat. Demi modal pertama membeli benih dan mengolah lahan tidur, Sibag rela menggadaikan sertifikat tanah orang tuanya.
Reruntuhan Distorsi Menjadi Formula Organik
Riuh panggung musik kini mulai jarang terdengar dari markas mereka. Energi yang dulu habis untuk melompat di arena moshing, kini dialihkan untuk meracik pupuk cair.
Di tangan sekitar 40 anggota komunitas yang tersebar di seantero Gunungkidul ini, limbah urin kambing, air leri (cucian beras), dan empon-empon disulap menjadi ramuan kesuburan.
Dari formula organik mandiri itu, hamparan lahan kritis Karangmojo seluas 4.000 meter persegi berubah menjadi super produktif. Hijau daun padi, rimbun pohon cabai rawit, terong, tomat, mentimun, kacang panjang, hingga bawang merah tumbuh subur tanpa setetes pun bahan kimia sintetis.
Bagi mereka, pertanian organik adalah bentuk kemandirian absolut—sebuah prinsip Do It Yourself (DIY) khas punk yang diterapkan langsung pada sistem pangan.
Menembus Batas Stigma
“Penampilannya saja yang seram, tapi mereka baik semua,” ujar Yatilah, (14/52026) Ketua Pedukuhan Kalangan, sambil tersenyum.
Awalnya, kehadiran anak-anak punk di sawah memicu dahi berkerut dari warga. Namun, aksi nyata meruntuhkan kecurigaan. Hasil panen sayur tidak hanya mendarat di pasar lokal atau grup WhatsApp warga, melainkan bermutasi menjadi gerakan sosial.

Keuntungan penjualan disisihkan untuk membangun rumah warga miskin yang reyot. Saat dusun menggelar acara 17 Agustusan atau perayaan tahun baru, kas dari keringat bertani anak punk inilah yang ikut menyokong dana Karang Tariuna. Mereka membuktikan bahwa etika sosial dan kepedulian tidak diukur dari rapinya pakaian.
Dari Jalanan Menuju Legalitas Negara
Transformasi kultural ini memikat perhatian Pemerintah. Lewat Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) BPP Ngipak, negara hadir bukan untuk membubarkan, melainkan merangkul. Enam bulan lalu, lahirlah Kelompok Taruna Tani Berkah Lare Tani (BLT) sebagai wadah resmi bagi komunitas asuhan Sibag ini.

“Kami rangkul dan wadahi agar mereka punya nomor registrasi resmi untuk legalitas kelompok,” kata Giyanto, (14/5/2026) perwakilan PPL Ngipak. Lewat kelompok Taruna Tani BLT, pendampingan budidaya hortikultura intensif diberikan. Kini lahan binaan mereka telah berkembang menyentuh angka 5.000 meter persegi dan bersiap melakukan ekspansi area tanam baru.
Di bawah terik matahari Gunungkidul, anak-anak punk ini tidak lagi berteriak menuntut perubahan lewat mikrofon. Mereka menanamnya langsung ke dalam tanah.
“Kami tidak fokus ke uangnya,” tutur Pratisna Sibag lirih namun tegas (14/5/2026). “Tapi bagaimana bisa bermanfaat untuk orang lain.”
Teks / Foto : Jajang R Kawentar (Yogyakarta) | Editor : Imron Supriyadi
DOK FOTO ANAK PUNK :












