JAKARTA | KabarSriwijaya.NET — Di tengah geliat perfilman Indonesia yang terus berkembang, ruang bagi penyandang disabilitas untuk terlibat sebagai kreator masih belum sepenuhnya terbuka. Karena itu, pemutaran dan diskusi film inklusi bertajuk Langit Tetap Sama di Balai Sastra Hans Bague Jassin menjadi momentum penting untuk memperluas percakapan tentang sinema yang setara dan manusiawi.
Kegiatan yang digelar Rabu, 13 Mei 2026, di lantai 4 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki itu menghadirkan pemutaran film sekaligus diskusi bersama pegiat komunitas inklusi dan perfilman.
Film Langit Tetap Sama memiliki keunikan tersendiri karena ditulis dan disutradarai oleh kreator tunanetra. Perspektif yang dihadirkan tidak lahir dari pengamatan luar semata, melainkan dari pengalaman hidup yang nyata.
Melalui kisah seorang tunanetra yang berjuang menghadapi keterbatasan, harapan, dan penerimaan diri, film ini mencoba mengajak penonton melihat disabilitas sebagai bagian dari keberagaman manusia, bukan sekadar objek belas kasihan.
Tema tersebut menjadi penting di tengah kecenderungan film arus utama yang masih kerap menempatkan penyandang disabilitas sebagai karakter pinggiran atau simbol penderitaan.
Dalam Langit Tetap Sama, pengalaman disabilitas justru tampil sebagai suara utama yang berbicara tentang martabat, relasi sosial, dan hak untuk dipahami secara setara.
Kegiatan pemutaran dan diskusi ini juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem perfilman yang lebih inklusif di Indonesia. Sinema tidak hanya dipahami sebagai medium hiburan, tetapi juga ruang pendidikan sosial yang mampu membuka empati publik terhadap realitas kelompok-kelompok yang selama ini kurang terwakili.
Diskusi menghadirkan sejumlah pegiat komunitas dan pemerhati film inklusi, di antaranya Ketua Umum Komunitas CInta Film Indonesia (KCFI) Budi Sumarno dan Basuki, Ketua Yayasan Sahabat Mata. Keduanya dikenal aktif mendorong keterlibatan penyandang disabilitas dalam ruang kebudayaan dan perfilman nasional.
Budi Sumarno menilai film inklusi perlu terus diperluas agar dunia perfilman Indonesia tidak hanya bicara soal industri, tetapi juga tentang keberagaman pengalaman manusia.
“Film bisa menjadi jembatan empati. Ketika penyandang disabilitas diberi ruang menjadi kreator, maka publik akan melihat realitas dari sudut pandang yang lebih jujur,” ujarnya dalam keterangan kegiatan.
Sementara itu, Basuki mengatakan keterlibatan penyandang disabilitas dalam dunia seni merupakan bagian dari hak kebudayaan warga negara yang perlu terus diperjuangkan.

Menurut dia, ruang-ruang pemutaran dan diskusi seperti ini penting agar masyarakat semakin memahami bahwa aksesibilitas bukan sekadar fasilitas fisik, melainkan juga kesempatan untuk didengar dan dihargai.
Ketua Komunitas Cinta Film Indonesia Sumsel, Yosep Suterisno, turut mengapresiasi penyelenggaraan pemutaran film inklusi tersebut. Menurut dia, kegiatan seperti Langit Tetap Sama menjadi contoh penting bahwa film tidak hanya berbicara soal teknologi dan hiburan, tetapi juga keberanian menghadirkan perspektif kemanusiaan.
“Film seperti ini memberi inspirasi bagi sineas muda di Sumatera Selatan untuk terus berkarya dan berani mengangkat realitas sosial di sekitar mereka. Potensi budaya lokal dan nilai-nilai kearifan daerah kita sangat kaya untuk diterjemahkan menjadi karya film,” ujar Yosep.
Ia berharap ruang-ruang kreatif dan pemutaran film independen semakin sering diadakan agar komunitas perfilman daerah memiliki kesempatan belajar sekaligus memperluas jejaring kreatif. Menurutnya, Sumatera Selatan memiliki banyak cerita lokal yang kuat, mulai dari tradisi, kehidupan masyarakat, hingga persoalan sosial yang relevan untuk diangkat ke layar lebar.
Acara ini didukung Perpustakaan Jakarta bersama sejumlah komunitas pegiat literasi, perfilman, dan inklusi sosial. Kehadiran ruang seni seperti Balai Sastra Hans Bague Jassin dinilai strategis karena mempertemukan dunia sastra, film, dan gerakan sosial dalam satu ruang kebudayaan yang terbuka.
Di tengah derasnya industri hiburan yang sering mengejar sensasi visual dan pasar komersial, Langit Tetap Sama menawarkan sesuatu yang lebih sederhana namun mendalam: pengalaman manusia yang ingin dipahami tanpa prasangka.
Barangkali itulah sebabnya film ini terasa penting. Ia tidak sekadar berbicara tentang keterbatasan penglihatan, melainkan tentang cara manusia memandang sesamanya. Sebab langit, pada akhirnya, memang tetap sama bagi siapa pun.
Teks : rel/bs | Editor : Imron Supriyadi


















