Ketika Pelepah Kelapa Menjadi Kritik Peradaban

Pameran Tunggal "Tuwuh Lan Ngrembaka" Teguh menghadirkan perjalanan artistiknya sejak 1998-2026.

BUDAYA, NASIONAL, Rupa, Seni178 Dilihat

Pameran Teguh Paino di Studio Kalahan menghadirkan “estetika bumi” di tengah gegap gempita seni rupa kontemporer yang semakin industrial dan kehilangan akar ekologisnya.

YOGYAKARTA | KabarSriwijaya.NET – Di Studio Kalahan, Yogyakarta, pelepah kelapa menjelma menjadi tubuh-tubuh yang murung. Tempurung kelapa disusun menyerupai gerbang, wayang, dan fragmen arsitektur yang tampak seperti peninggalan sebuah peradaban yang perlahan ditinggalkan.

Tidak ada kilau teknologi digital. Tidak ada sensasi visual yang meledak-ledak. Yang hadir justru material sederhana: limbah organik dari pohon kelapa yang selama ini dianggap remeh.

Namun dari benda-benda yang nyaris terlupakan itu, Teguh Paino membangun percakapan panjang tentang manusia, alam, dan kesadaran yang kian terkikis modernitas.

Melalui pameran tunggal bertajuk Tuwuh Lan Ngrembaka (Tumbuh dan Berkembang), Teguh menghadirkan perjalanan artistiknya sejak 1998 hingga 2026. Pameran yang berlangsung di Studio Kalahan pada 27 April-4 Mei 2026 itu menampilkan lukisan serta karya instalasi berbahan pelepah dan tempurung kelapa.

Di tengah kecenderungan seni rupa kontemporer yang semakin dekat dengan industri kreatif dan pasar visual global, pilihan Teguh terasa seperti sebuah sikap. Ia tidak sedang merayakan kemajuan teknologi atau estetika urban, melainkan mengembalikan perhatian pada material organik yang akrab dengan kehidupan masyarakat desa.

Pohon kelapa, dalam karya-karyanya, tidak hadir sebagai simbol folklor atau nostalgia eksotis. Ia tampil sebagai metafora tentang ketahanan hidup, kebersamaan, ingatan ekologis, dan identitas lokal yang perlahan terdesak budaya konsumsi modern.

Seniman Heri Dono membaca karya Teguh sebagai bentuk kebebasan berekspresi sekaligus transformasi kesadaran. Pemilik Studio Kalahan yang baru kembali dari Jepang usai menggelar lokakarya wayang itu melihat praktik artistik Teguh sebagai cerminan perubahan sosial pascaotoritarianisme di Indonesia.

“Teguh berhasil keluar dari cengkeraman eksotisme tradisi,” ujar Heri. “Ia mengolah pelepah dan tempurung kelapa menjadi medium kontemporer yang membuka pintu menuju ruang kesadaran baru.”

Pernyataan Heri terasa relevan jika melihat bagaimana tradisi dalam seni rupa Indonesia kerap direduksi menjadi ornamen visual demi memenuhi selera pasar dan romantisme budaya. Teguh tampaknya menolak jebakan itu.

Sejumlah pengunjung dan seniman ikut menyaksikan dan menikmati Pameran (Foto.Dok.KSRI/Jajang)

Ia tidak memamerkan desa sebagai objek nostalgia, melainkan menjadikannya ruang refleksi terhadap modernitas yang semakin tercerabut dari alam.

Material organik dalam karya-karya Teguh menghadirkan sesuatu yang jarang muncul dalam seni rupa kontemporer hari ini: keheningan.

Di antara tekstur serat kelapa yang kasar dan susunan tempurung yang repetitif, terdapat dunia batin yang bekerja perlahan. Karya-karya itu tidak mengajak penonton terpukau secara instan, tetapi mendorong pengalaman kontemplatif yang sunyi dan personal.

BERITA TERKAIT :

Penyair sekaligus seniman multidisipliner Faisal Kamandobat menyebut karya Teguh sebagai “laboratorium rohani”.

Menurut Faisal, Teguh tidak memilih jalur “seni protes” secara vulgar dalam menghadapi dinamika sosial-politik pascareformasi. Ia justru mengolah pergulatan zaman menjadi proses pertumbuhan kesadaran diri.

“Teguh menerima dinamika sosial sebagai ruang untuk menumbuhkan kesadaran rohani,” kata Faisal. “Karena itu, karya-karyanya terasa sangat psikologis dan emosional.”

Kesan tersebut tampak kuat dalam garis visual Teguh yang cenderung repetitif, meditatif, dan nyaris asketik. Ada dunia batin manusia Jawa yang terus bekerja di sana—diam, tetapi tidak pasif; teduh, tetapi menyimpan kegelisahan panjang.

Dalam konteks itu, Tuwuh Lan Ngrembaka tidak sekadar berbicara tentang medium dan bentuk artistik, melainkan juga tentang cara manusia memaknai hidup di tengah perubahan zaman yang agresif.

Kurator Sudjud Dartanto menyebut pendekatan Teguh sebagai “estetika bumi”. Istilah itu merujuk pada praktik artistik yang bertumpu pada pengalaman material, kedekatan dengan alam, dan proses sublimasi batin.

“Karya-karya Teguh merupakan hasil pengalaman personal yang jujur,” ujar Sudjud. “Seni menjadi ruang sublimasi, tempat pergulatan batin dialihkan menjadi karya kreatif.”

Dalam karya Teguh, alam tidak diposisikan sebagai objek eksploitasi visual, melainkan sebagai ruang spiritual dan etis. Di tengah dunia seni yang sering terjebak pada ego individual, sensasi pasar, dan hiperproduksi visual digital, Teguh justru menawarkan pendekatan yang membumi dan reflektif.

Pandangan lain datang dari Agus Kamal, dosen Teguh semasa kuliah di Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada 1990-an. Agus melihat evolusi artistik Teguh sebagai proses panjang yang bergerak dari bentuk-bentuk konvensional dua dimensi menuju eksplorasi instalasi yang lebih eksperimental.

“Perkembangan Teguh sangat signifikan. Ia berhasil keluar dari pendekatan visual yang konvensional menuju pencarian medium yang lebih personal,” ujar Agus.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa perjalanan artistik Teguh bukanlah transformasi yang lahir tiba-tiba. Ia merupakan akumulasi pengalaman panjang, pergulatan batin, dan upaya terus-menerus membaca ulang hubungan manusia dengan tradisi serta alam sekitarnya.

Di tengah derasnya seni rupa kontemporer yang semakin industrial dan berorientasi pasar, karya-karya Teguh Paino terasa seperti jeda.

Ia menghadirkan kemungkinan lain tentang seni: bukan sekadar tontonan visual, melainkan ruang perenungan tentang manusia yang perlahan kehilangan hubungan dengan bumi tempatnya berpijak.**

Teks / Foto : Jajang R Kawentar  |  Editor : Imron Supriyadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *