Suatu pagi di tepian Sungai Musi, denyut Palembang bergerak seperti biasa. Perahu ketek masih melintas membawa penumpang, pasar tradisional mulai ramai, sementara kendaraan mengular di ruas-ruas jalan utama kota. Namun di balik hiruk-pikuk itu, ada penanda lain yang diam-diam mencatat perubahan Palembang: kota ini kini masuk dalam 10 besar kota paling maju di luar Pulau Jawa versi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
PALEMBANG | KabarSriwijaya.NET – Melalui hasil penilaian Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025, Palembang menempati posisi kesembilan kota dengan daya saing terbaik di luar Jawa dengan skor 4,23 dari skala maksimal lima poin. Di tingkat Sumatera Selatan, Palembang berada di posisi tertinggi.
Penghargaan itu diterima langsung Wali Kota Ratu Dewa dari Deputi Bidang Riset dan Inovasi Yopi. Bagi PemerintahTetapkan gambar unggulan Kota Palembang, capaian tersebut disebut sebagai hasil dari upaya panjang membangun kota yang lebih kompetitif di tengah persaingan antarwilayah yang semakin ketat.
“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi Pemerintah Kota Palembang untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan publik, memperkuat ekosistem inovasi, serta menciptakan pembangunan yang berkelanjutan,” ujar Ratu Dewa, Minggu (10/5/2026).
Bagi Palembang, capaian ini bukan sekadar angka statistik. Dalam beberapa tahun terakhir, kota tertua di Indonesia itu terus bergerak menata diri sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di Sumatera bagian selatan. Pembangunan infrastruktur, penguatan layanan publik berbasis digital, hingga upaya menarik investasi menjadi wajah baru yang perlahan mengubah ritme kota.
Di sejumlah sudut kota, perubahan itu terlihat nyata. Kawasan Jakabaring berkembang menjadi pusat olahraga dan ekonomi baru. Layanan administrasi publik mulai beralih ke sistem digital. Sementara sektor perdagangan dan kuliner tumbuh cepat mengikuti geliat urbanisasi.
Meski demikian, tantangan Palembang juga tidak kecil. Kemacetan, persoalan lingkungan, banjir musiman, hingga kesenjangan pembangunan antarwilayah masih menjadi pekerjaan rumah yang terus dibicarakan warga.
Indeks Daya Saing Daerah yang disusun Badan Riset dan Inovasi Nasional memang tidak hanya mengukur pertumbuhan ekonomi semata. Penilaian dilakukan menggunakan standar Global Competitiveness Index dan World Economic Forum dengan menitikberatkan pada kualitas sumber daya manusia, kekuatan pasar, ekosistem inovasi, serta lingkungan pendukung pembangunan.
Empat komponen itu kemudian diterjemahkan ke dalam 12 pilar penilaian yang mencakup berbagai aspek, mulai dari pendidikan, kesehatan, infrastruktur, kesiapan teknologi, hingga kapasitas inovasi daerah.
Menurut BRIN, pengukuran dilakukan melalui harmonisasi data lintas kementerian dan lembaga agar hasil penilaian memiliki konsistensi dan dapat menjadi acuan kebijakan pembangunan daerah.
BACA JUGA ARTIKEL TERKAIT :
Bagi sebagian warga, predikat kota maju mungkin belum sepenuhnya terasa dalam kehidupan sehari-hari. Namun bagi pemerintah daerah, pengakuan tersebut menjadi sinyal bahwa Palembang mulai diperhitungkan di tingkat nasional, terutama di luar dominasi kota-kota besar Pulau Jawa.
“Kami akan menjadikan hasil evaluasi ini sebagai rujukan penting dalam menyusun kebijakan pembangunan yang lebih inovatif dan adaptif,” kata Ratu Dewa.
Di tengah perubahan zaman dan kompetisi antarwilayah yang semakin terbuka, Palembang tampaknya sedang berusaha mencari wajah barunya: tetap berpijak pada identitas kota tua di tepian Musi, tetapi juga bergerak menjadi kota modern yang mampu bersaing di tingkat nasional.
Teks : Annisa N.A. | Editor : Warman P | Foto.Dok. Humas Pemkot


















