Dua Hari Menjelang Lomba, Antusiasme Peserta “Tumpah”  di Pesantren Laa Roiba

Dari halaman pesantren hingga harapan orang tua, sebuah panggung kecil untuk mimpi-mimpi besar

AGAMA, Islam143 Dilihat

Pagi di halaman Pondok Pesantren Laa Roiba, Muara Enim, belum sepenuhnya riuh. Tapi di meja panitia, denyutnya sudah terasa. Daftar peserta terus bertambah. Nama demi nama ditulis, diperiksa, lalu diselipkan ke dalam map. Seolah ada arus yang tak terlihat—mengalir pelan, tapi pasti.

Pustrini Hayati, S.Pd.I, Ketua Perlombaan di PP Laa Roiba Muaraenim

MUARAENIM |  KabarSriwijaya.NET – Dua hari lagi, Selama, 5 Mei 2026, Lomba Islami dalam rangka Milad ke-7 dan Haflatul Wada’ ke-5 akan digelar. Namun suasana lomba seakan sudah dimulai lebih dulu. Peserta membludak, hampir melampaui target yang ditetapkan panitia.

“Setiap hari ada saja yang mendaftar. Bahkan yang dari luar kecamatan,” ujar Ketua Perlombaan, Ustadzah Pustrini Hayati, S.Pd.I.

Yang datang bukan hanya dari sekolah-sekolah sekitar Muara Enim. Nama-nama dari wilayah yang lebih jauh ikut mengisi daftar. Ada siswa SD dan MI, santri rumah tahfidz, anak-anak dari rumah Qur’an, hingga pelajar sekolah umum. Mereka datang dengan satu tujuan: ikut ambil bagian.

Jenis lombanya beragam—tartil Al-Qur’an, ceramah agama, fashion show Islami, mewarnai, cerdas cermat, hingga baca puisi. Setiap cabang seperti memiliki dunia kecilnya sendiri. Dunia anak-anak yang memegang krayon, dunia remaja yang merangkai kata, hingga dunia santri yang melantunkan ayat.

Di sela kesibukan itu, KH Taufik—pimpinan Pondok Pesantren Laa Roiba—mengamati dengan tenang. Baginya, keramaian ini bukan sekadar angka peserta.

“Apa yang kita lihat hari ini adalah tanda bahwa masyarakat rindu ruang-ruang yang mendidik,” ujarnya pelan.

Ia menilai, kegiatan seperti ini bukan hanya lomba, melainkan proses pembentukan karakter. Anak-anak tidak hanya diuji kemampuan, tapi juga keberanian, kepercayaan diri, dan adab dalam berkompetisi.

BACA BERITA TERKAIT LAINNYA :

BACA JUGA BERITA SEBELUMNYA :

“Kita ingin anak-anak ini tumbuh bukan hanya cerdas, tapi juga berakhlak. Lomba ini bagian kecil dari proses itu,” kata KH Taufik.

Antusiasme tidak berhenti pada peserta. Orang tua ikut larut dalam suasana. Mereka mengantar, bertanya, memastikan jadwal, bahkan memberi semangat berulang kali kepada anak-anak mereka. Ada harapan yang ikut dititipkan—tentang masa depan yang lebih baik.

Fenomena ini, menurut panitia, menunjukkan satu hal: ruang kreatif berbasis nilai Islami masih sangat dibutuhkan. Bahkan, mungkin sedang dicari.

“Ini peluang besar,” kata Ustadzah Pustrini. “Kegiatan seperti ini bisa diperbanyak—di momen hari besar Islam maupun nasional. Karena di situlah kita bisa melihat dan mengasah potensi anak-anak.”

KH Taufik menambahkan, pendidikan tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas.

“Kadang justru di panggung seperti ini, kita bisa melihat siapa anak-anak yang berani tampil, siapa yang punya potensi kepemimpinan, siapa yang tekun,” ujarnya.

Ia berhenti sejenak, lalu menatap halaman pesantren yang mulai ramai.

“Dan itu semua tidak bisa muncul kalau tidak diberi ruang.”

Ruang itulah yang kini sedang disiapkan Laa Roiba.

Bagi peserta, panitia berulang kali mengingatkan: lomba bukan semata soal menang atau kalah. Yang lebih penting adalah keberanian untuk mencoba.

“Menang itu bonus,” kata Ustadzah Pustrini. “Kalau belum menang, berarti kita sedang didorong oleh Allah untuk belajar lebih banyak.”

KH Taufik mengangguk, lalu menambahkan dengan nada yang tenang namun tegas: “Yang penting anak-anak ini berani tampil. Dari situ, insyaAllah, masa depan mereka mulai dibentuk.”

Pagi itu, di tengah daftar peserta yang terus bertambah, satu hal menjadi jelas: yang sedang disiapkan di Laa Roiba bukan sekadar perlombaan.

Melainkan sebuah panggung kecil—tempat anak-anak belajar berdiri, mencoba, dan perlahan mengenali dirinya sendiri.**

Teks : Tim Media PP Laa Roiba  | Ilustrasi ; AI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *