MUARA ENIM | KabarSriwijaya.NET — Pagi itu, langit di atas bumi Serasan Sekundang tampak teduh. Di halaman Pondok Pesantren Rawdhotut Taufiq, barisan kursi tertata rapi, kain-kain dekorasi melambai pelan, seolah ikut menyambut sebuah peristiwa penting: perpisahan yang bukan sekadar melepas, melainkan mengantarkan.
Rabu, 29 April 2026, menjadi hari yang akan lama dikenang. Ratusan pasang mata berkumpul dalam satu suasana: khidmat, hangat, sekaligus menggetarkan hati.
Tasyakuran pelepasan siswa kelas IX MTs dan kelas XII MA bukan hanya agenda tahunan, tetapi momentum batin—antara harap, syukur, dan keikhlasan.
Di bawah asuhan H. Mahmud Fauzi Fita, pesantren ini kembali menunaikan satu amanah besar: melahirkan generasi yang tak hanya cerdas, tetapi juga berakar pada nilai-nilai iman.

Sejumlah tokoh hadir, menguatkan makna kebersamaan dalam pendidikan.
Di antaranya Ibu Isma Hidayatullah, S.Ag., M.Pd., yang memimpin Madrasah Aliyah sekaligus Yayasan Rawdhotut Taufiq, Ibu Fathona Hanim, S.Pd.I., Kepala MTs, serta H. Khoiragman Yusuf, SE, Wakil Pimpinan Pondok.
Hadir pula Kepala Kantor Kementerian Agama Muara Enim, Drs. H. Abdul Haris Putra, M.Pd., bersama Dr. H. Solihan, M.Pd.I, Ketua MUI Muaraenim.
Namun, di antara deretan sambutan dan susunan acara, ada satu bahasa yang paling jujur hari itu: air mata.
Saat nama-nama santri dipanggil satu per satu, langkah mereka terasa berat namun pasti.
Di kursi tamu, para orang tua menyimak dengan mata yang mulai basah.
Ada kebanggaan yang tak bisa disembunyikan, bercampur dengan haru yang sulit ditahan.
Muhamad, salah satu wali murid, menggenggam erat tangannya sendiri, seakan menahan gejolak rasa.
“Kami hanya bisa berterima kasih,” ucapnya lirih. “Para guru di sini bukan hanya mengajarkan ilmu, tapi juga menanamkan adab dan iman. Semoga semua itu menjadi amal jariyah yang tak pernah putus.”
Kalimat itu sederhana, tetapi terasa dalam. Sebab di pesantren, pendidikan memang tak berhenti pada hafalan atau angka-angka. Ia hidup dalam teladan, tumbuh dalam kebiasaan, dan berbuah dalam akhlak.

Pelepasan ini, pada akhirnya, bukanlah akhir. Ia adalah gerbang.
Para santri yang hari itu dilepas, sesungguhnya sedang diantar menuju medan kehidupan yang lebih luas—dengan bekal ilmu, doa, dan harapan yang dipikul bersama.
Rawdhotut Taufiq, dengan segala kesederhanaannya, kembali menegaskan perannya sebagai tempat menempa jiwa.
Sebuah ruang di mana anak-anak belajar menjadi manusia seutuhnya: berpikir jernih, bersikap santun, dan berdiri teguh dalam nilai-nilai agama.
Di penghujung acara, tepuk tangan menggema panjang.
Bukan sekadar apresiasi, melainkan doa yang disuarakan bersama.
Dan di antara gema itu, terselip pesan yang tak terucap, namun terasa jelas:
Pergilah, wahai anak-anak kami / Bawalah cahaya dari pesantren ini / Sebab dunia di luar sana menunggu / dan kalian telah dipersiapkan untuk itu.
Teks / Foto : Muhammad | Editor : Imron Supriyadi


















