
Langit Palembang akan segera berganti warna ketika malam ini, Sabtu (18/4/2026), layar putih ditegakkan di sudut Jalan Kolonel Atmo. Di tengah riuh Car Free Night (CFN), cahaya proyektor dijadwalkan menyala pukul 19.00 WIB—menandai dimulainya sebuah peristiwa yang tak biasa: film hadir di jalan, menyapa siapa saja yang melintas.
Malam ini, Komunitas Cinta Film Indonesia (KCFI) Sumatera Selatan bersama lembaga seni budaya lainnya di Palembang, Pemkot Palembang, Dinas terkiat lainnya, akan menggelar “Nobar Film Pendek bersama Sineas Sumsel” sebagai bagian dari rangkaian CFN Atmo.
Empat film lokal dijadwalkan diputar: Warisan, Perahu Ketek, Kampung Silat, dan Pulang di Ujung Takbir.
Agenda ini bukan sekadar tontonan, melainkan upaya menghadirkan film ke ruang publik—keluar dari batas ruang tertutup menuju jalan yang hidup oleh interaksi warga.
Tidak ada sekat formal dalam kegiatan ini. Penonton dipersilakan datang, berhenti, dan menikmati film secara terbuka.
Layar akan dipasang di area CFN, menyatu dengan suasana kuliner dan pertunjukan seni yang telah lebih dulu menghidupkan kawasan tersebut sejak sore hari.
KCFI Sumsel memandang momentum ini sebagai cara memperluas jangkauan apresiasi film di daerah.
Selama ini, film pendek kerap beredar di lingkar terbatas—festival atau komunitas. Melalui CFN, film dihadirkan langsung kepada publik, tanpa tiket, tanpa jarak.
“Ini bukan hanya soal menonton film, tetapi bagaimana masyarakat bisa merasakan bahwa cerita-cerita lokal juga milik mereka,” ujar Ketua KCFI Sumsel, Yosep Suterisno, SE
Keempat film yang akan diputar membawa ragam tema yang berakar pada kehidupan lokal.
Warisan mengangkat nilai-nilai yang diwariskan antargenerasi.
Perahu Ketek menyorot identitas Palembang sebagai kota sungai.
Kampung Silat menghadirkan dinamika tradisi bela diri.
Sementara Pulang di Ujung Takbir menyentuh dimensi religius dalam kehidupan masyarakat.
Melalui rangkaian cerita itu, penonton diajak melihat potret Sumatera Selatan dari berbagai sudut—budaya, tradisi, hingga spiritualitas.
Car Free Night Atmo sendiri merupakan konsep baru yang menggabungkan seni dan kuliner dalam satu ruang terbuka. Jalan Kolonel Atmo, yang biasanya padat kendaraan, disulap menjadi ruang interaksi warga.
Tanpa deru mesin, yang terdengar adalah musik, percakapan, dan aktivitas kreatif dari berbagai komunitas.
Kehadiran KCFI menjadi salah satu elemen penting dalam memperkaya pengalaman tersebut.
Film, dalam konteks ini, tidak hanya menjadi hiburan visual, tetapi juga medium refleksi sosial yang bisa dinikmati bersama.
Ketua KCFI Sumsel, Yosep Sutersino, mengajak seluruh anggota dan masyarakat untuk hadir dan meramaikan kegiatan ini. Ia menekankan bahwa keterlibatan publik menjadi kunci keberhasilan acara semacam ini.
“Semakin banyak yang datang, semakin terasa bahwa film memang bagian dari kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Diperkirakan, kawasan CFN Atmo akan dipadati 200 tenda kuliner, 43 komunitas seni budaya serta pengunjung sejak petang hingga malam hari.
Selain menikmati kuliner dan pertunjukan seni, warga juga dapat menyaksikan pemutaran film sambil bersantai di ruang terbuka.
Malam ini, Jalan Kolonel Atmo tidak hanya menjadi tempat berjalan kaki, tetapi juga ruang bertemu—antara cerita dan penontonnya, antara kota dan warganya.
Dan ketika layar mulai menyala pukul 19.00 WIB nanti, Palembang akan kembali menunjukkan satu wajahnya yang lain: kota yang tidak hanya bergerak, tetapi juga bercerita, terlebih acara ini akan dibuka Gubernur Sumatera Selatan H Herman Deru**
TEKS : IMRON SUPRIYADI | ILSUTRASI : GRUP WA KCFI SUMSEL




















