IKARAFA, Antara Gendang dan Botol-Botol Kosong

Setiap kata “sinergi” itu menuntut pengorbanan waktu

Oleh : Imron Supriyadi, Jurnalis, alumnus Fak. Ushuluddin IAIN Raden Fatah Palembang (1997)

Di sebuah siang yang khidmat di Gedung PPG Kampus Jakabaring, para alumni berkumpul. Mereka duduk rapi, sebagian memakai jas, sebagian lagi membawa identitas profesinya masing-masing: ada yang pejabat, ada yang dosen, ada yang aparat, ada yang pengusaha, bahkan mungkin ada yang diam-diam masih mencari jati diri sambil sesekali melihat notifikasi WhatsApp.

Di panggung itu, nama Prof Suyitno, senior saya disebut dan dikukuhkan sebagai Ketua Ikatan Keluarga Alumni UIN Raden Fatah (IKARAFA).

Tepuk tangan terdengar. Kamera menyala. Dokumentasi diambil dari berbagai sudut—karena kita ini bangsa yang sangat mencintai bukti bahwa kita pernah melakukan sesuatu.

Dan memang, kita sangat pandai memulai sesuatu.

Masalahnya bukan di awal. Kita ini jago bikin awal. Bahkan kalau perlu, awalnya dibuat dua kali. Yang satu pembukaan, yang satu lagi grand opening. Kalau kurang mantap, ditambah soft launching dan hard launching. Pokoknya jangan sampai tidak launching.

Tapi setelah itu? Nah, di situlah biasanya kita mulai menguap.

Organisasi kita sering seperti gendang. Depannya keras, belakangnya juga keras, tapi tengahnya kosong. Kalau dipukul bunyinya nyaring. Tapi kalau dibelah, isinya angin.

 jarang melantik diri sendiri

Saya tidak sedang mengejek. Ini bukan satire yang dibuat-buat. Ini fakta yang sering kita lihat, bahkan mungkin kita alami sendiri. Kita rajin melantik, tapi jarang melantik diri sendiri untuk bekerja. Kita gemar menyusun struktur, tapi lupa mengisi substansi.

IKARAFA, seperti organisasi alumni lainnya, lahir dengan niat baik. Bahkan sangat baik. Ingin menyambung silaturahmi, menguatkan jejaring, dan memberi kontribusi nyata. Semua kata itu indah. Bahkan terlalu indah sampai kadang kita lupa bahwa kata-kata juga punya beban moral.

BACA BERITA SEBELUMNYA :

Prof Amin Suyitno, Ketua IKARAFA 2026–2030

 

Karena setiap kata “kontribusi” itu menuntut kerja. Setiap kata “sinergi” itu menuntut pengorbanan waktu. Dan setiap kata “untuk masyarakat” itu menuntut kita keluar dari zona nyaman.

menunda pekerjaan

Nah, di sini biasanya kita mulai sedikit mundur. Sebab kehidupan kita sudah penuh. Ada yang jadi kepala dinas, ada yang jadi kapolres, ada yang jadi dosen, ada yang jadi pengusaha, ada yang jadi staf ahli, bahkan mungkin ada yang jadi ahli dalam menunda pekerjaan.

Semua sibuk. Dan kesibukan itu sering menjadi alasan paling halus untuk tidak berbuat apa-apa di organisasi.

Akhirnya, jabatan di organisasi itu seperti hiasan nama. Dicantumkan di undangan, ditulis di spanduk, disebut dalam rapat. Tapi di kehidupan nyata, ia tidak punya waktu untuk hidup.

NATO

Kita punya istilah yang cukup jujur: NATO—No Action Talk Only. Atau kalau dalam bahasa yang lebih santun: wacana tanpa aksi.

Lucunya, kita tidak merasa itu masalah. Kita malah bangga. Karena yang penting sudah ada organisasi. Sudah ada kepengurusan. Sudah ada SK. Sudah ada foto bersama.

tidak minum berita

Padahal masyarakat tidak makan SK. Rakyat kecil tidak minum berita pelantikan. Dan orang miskin tidak kenyang dengan dokumentasi kegiatan.

Mereka butuh sesuatu yang lebih sederhana: manfaat.

memperbanyak botol kosong

Di titik ini, kita perlu sedikit jujur kepada diri sendiri. Kita ini sering memperbanyak botol kosong, daripada mengisi botol yang sudah ada. Setiap kali ada masalah, kita bikin organisasi baru. Setiap kali ada ide, kita bikin wadah baru.

Padahal wadah lama belum tentu penuh. Ini tragis. Ironis. Dan kalau mau sedikit jujur lagi: miris. Karena kita seperti orang haus yang sibuk mengumpulkan gelas, tapi lupa mengisi air.

miskin eksekusi

IKARAFA, dengan jumlah alumni puluhan ribu, adalah potensi yang luar biasa. Bayangkan kalau satu persen saja dari 44 ribu alumni itu benar-benar bergerak. Itu sudah ratusan orang. Kalau setiap orang menyentuh sepuluh orang masyarakat, sudah ribuan yang merasakan manfaat.

Tapi itu kalau bergerak. Masalahnya, kita sering berhenti di titik “potensi”. Kita ini kaya potensi, tapi miskin eksekusi. Kaya ide, tapi pelit tindakan. Kaya wacana, tapi kurus karya.

BACA ARTIKEL LAINNYA

IKARAFA dan Ikhtiar Menyambung Ilmu dengan Amal

Padahal dalam ajaran agama, ukuran manusia itu bukan apa yang ia pikirkan, tapi apa yang ia lakukan. Bukan apa yang ia rencanakan, tapi apa yang ia realisasikan.

Rasulullah tidak membangun peradaban dengan proposal. Beliau membangun dengan langkah kecil yang konsisten. Di situlah bedanya kita dengan teladan kita. Kita sibuk merancang bangunan, tapi lupa meletakkan batu pertama.

Organisasi gendang

IKARAFA punya kesempatan untuk berbeda. Jangan jadi organisasi gendang. Jangan jadi botol kosong. Jangan jadi album foto yang hanya dibuka lima atau tiga tahun sekali saat mau pemilihan ketua baru.

Kalau perlu, kecil saja dulu. Tidak usah langsung bicara global. Tidak usah langsung bicara internasional. Mulai saja dari satu desa. Dari satu sekolah. Dari satu kelompok masyarakat.

Bikin program yang sederhana, tapi nyata. Misalnya: beasiswa kecil untuk anak yatim. Pelatihan gratis untuk guru madrasah.
Pendampingan usaha kecil.

setiap sudut kampung

Atau sekadar mengajar di kampung sekali seminggu. Melatih life skill bagi putra-putri alumni. Mengajar mengaji, memipin tahlilan, yasinan, mengurus jenazah di setiap sudut kampung. Mengajari wudhu para buruh dan petani. Dan masih banyak lagi yang bisa diperbuat, tanpa harus berpikir, uang bensin, transportasi, honor dan sejenisnya.

Kita ini kadang aneh, tapi santun. Kalau ban mobil kempes, kita tidak pernah bilang, “Nanti saja, ini kan urusan dunia.” Langsung ganti. Kalau tembok rumah mulai kusam, kita cepat-cepat cat ulang, biar enak dipandang tetangga. Kalau motor ingin tampil gagah, kita cicil tanpa ragu.

niatnya parkir

Tapi giliran ada urusan umat, kita mendadak menjadi filosof: “Perlu dikaji dulu… perlu dirapatkan dulu… perlu menunggu momentum.” Padahal yang dibutuhkan cuma satu: berangkat. Bensin ada, dompet ada, niatnya saja yang sering parkir terlalu lama.

Coba bayangkan kalau dulu Rasulullah berdakwah pakai sistem kita sekarang. Mau hijrah, bikin proposal dulu. Mau menolong fakir miskin, tunggu SPJ cair.

Mau perang Badar, bikin grup WhatsApp dulu: “Mohon izin, siapa saja yang bisa ikut? Konsumsi ditanggung masing-masing.”

keberanian iman burung pipit

Lalu malaikat diminta jadi bendahara, memastikan saldo pahala cukup sebelum amal dilakukan. Mungkin sejarah akan jadi lucu, tapi tidak akan pernah jadi agung. Sebab peradaban tidak lahir dari kalkulasi ongkos, tapi dari keberanian iman.

IKARAFA, sekecil apa pun, adalah harapan. Tapi harapan itu bukan untuk dipajang di spanduk. Ia harus bergerak, meski kecil, meski pelan. Kita bisa belajar dari burung pipit yang membawa setetes air saat Nabi Ibrahim dibakar oleh Raja Namrudz. Ia tahu airnya tidak akan memadamkan api. Tapi ia juga tahu, ia tidak mau berdiri di pihak yang diam.

Kita ini sering lebih pintar dari burung pipit—tapi justru kalah dalam keberpihakan. Jangan sampai IKARAFA jadi cicak yang pandai mengejek, tapi lupa bagaimana cara menolong.

Itu mungkin tidak masuk berita nasional. Tapi masuk dalam catatan amal. Dan yang lebih penting: masuk dalam kehidupan orang-orang kecil yang selama ini tidak pernah hadir di forum simposium.

tidak harus organisasi paling hebat

Kita ini sering lupa, bahwa keberkahan itu tidak selalu datang dari yang besar. Kadang justru dari yang kecil, tapi tulus. IKARAFA tidak perlu menjadi organisasi yang paling hebat. Cukup jadi organisasi yang paling bermanfaat.

Karena pada akhirnya, ukuran organisasi bukan seberapa megah pelantikannya, tapi seberapa jauh dampaknya. Bukan seberapa banyak pengurusnya, tapi seberapa banyak yang benar-benar bekerja. Bukan seberapa panjang programnya, tapi seberapa nyata hasilnya.

Kalau IKARAFA bisa menjaga itu, maka ia tidak akan menjadi sekadar nama. Ia akan menjadi gerakan.

Dan kalau tidak? Ya, paling-paling tiga atau lima tahun lagi kita akan berkumpul lagi. Menggelar acara yang sama. Dengan tema yang mungkin sedikit berbeda. Dengan harapan yang sama. Dengan doa yang sama.

Lalu pulang lagi. Tidur lagi. Dan menunggu siklus berikutnya. Semoga tidak. Karena kita tidak kekurangan organisasi.
Kita hanya kekurangan keberanian untuk menghidupkan organisasi.

Prof. Dr. Suyitno, M.Ag

Saya mengenal Mas Suyitno bukan kemarin sore. Sejak 1992, ketika ia masih menjadi Sekretaris Umum (Sekum) Senat Mahasiswa Institut di IAIN Raden Fatah Palembang, ia sudah terbiasa menggerakkan banyak kepala, bukan sekadar mengatur kursi rapat. Stu diantaranya saya di Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin, ketika itu.

Orang-orang seperti Mas Suyitno ini biasanya tidak terlalu ribut di depan, tapi diam-diam memastikan mesin tetap hidup. Belum lagi jejaknya di organisasi ekstra kampus—yang kalau diceritakan satu per satu, mungkin lebih panjang dari daftar hadir rapat yang sering kita abaikan itu.

Maka saya percaya, ini bukan sekadar pergantian ketua, tapi kesempatan untuk menghidupkan kembali denyut yang sering kita biarkan tertidur.

IKARAFA, kalau dipandu oleh tangan yang terbiasa bekerja, bukan hanya akan berdiri di kota dengan jas dan podium, tapi juga berjalan di desa dengan sandal dan tanah.

Kita tidak butuh organisasi yang pandai berbicara tentang umat, kita butuh yang mau berjalan bersama umat. Semoga Mas Yitno tidak hanya mengingatkan kita untuk bergerak, tapi juga menyeret kita—yang sering malas ini—untuk ikut bergerak. Aamiin.

Ponpes Laa Roiba-Muaraenim, 18 April 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *