Harga Ikan Giling di Palembang Tembus Rp 120 Ribu/Kg Jelang Lebaran
PALEMBANG | KabarSriwijaya.NET – Menjelang Lebaran, aroma ikan giling kembali menguar dari lorong-lorong pasar tradisional di Palembang. Namun tahun ini, harga bahan baku utama pempek itu melonjak tajam. Di tengah tradisi masyarakat yang mulai sibuk menyiapkan hidangan khas hari raya, ikan gabus dan tenggiri justru menjadi komoditas yang semakin mahal dan sulit diperoleh.
Di Pasar Kuto Palembang, aktivitas jual beli ikan giling tampak lebih ramai dibanding hari biasa. Para pembeli datang silih berganti membawa ember dan kantong plastik, sebagian besar sudah memesan lebih awal agar tidak kehabisan stok. Di balik keramaian itu, para pedagang mengaku pasokan ikan dari pemasok mulai menipis.
Harga ikan giling gabus kini menembus Rp100 ribu per kilogram, naik dari sebelumnya sekitar Rp85 ribu sebelum Ramadan. Sementara ikan tenggiri yang menjadi bahan favorit pempek kapal selam dan aneka olahan khas Palembang lainnya mencapai Rp120 ribu per kilogram.
Benny, salah satu pedagang ikan di Pasar Kuto, mengatakan kenaikan harga dipicu terbatasnya stok ikan di pasaran. Menurut dia, kondisi cuaca dan berkurangnya hasil tangkapan membuat distribusi ikan tidak sebanyak biasanya.
“Kalau sekarang memang naik semua. Gabus asli tanpa campuran sudah Rp100 ribu sekilo. Tenggiri juga naik jadi Rp120 ribu,” ujar Benny saat ditemui di lapaknya, Senin (16/3/2026).
Ia menuturkan, kenaikan harga ikan hampir selalu terjadi menjelang Lebaran. Namun tahun ini lonjakannya terasa lebih tinggi karena permintaan masyarakat meningkat bersamaan dengan stok yang berkurang.
Bagi warga Palembang, membeli ikan giling bukan sekadar kebutuhan dapur biasa. Tradisi membuat pempek menjelang Idulfitri telah menjadi bagian dari budaya keluarga yang diwariskan turun-temurun. Banyak warga memilih membuat sendiri pempek, tekwan, model, hingga kerupuk ikan untuk disajikan kepada tamu saat silaturahmi Lebaran.
Ajeng, salah seorang pembeli, mengaku cukup terkejut dengan kenaikan harga tahun ini. Meski demikian, ia tetap membeli ikan giling karena sudah menjadi tradisi keluarga untuk membuat pempek sendiri di rumah.
“Kalau buat pempek kan ikannya banyak. Jadi terasa sekali naiknya. Biasanya tidak sampai segini,” katanya.
Di sejumlah lapak, para pedagang terlihat mulai membatasi jumlah pembelian untuk pelanggan tertentu agar stok tetap tersedia hingga mendekati hari raya. Sebagian pembeli bahkan rela datang sejak pagi demi mendapatkan ikan giling kualitas baik.
Kenaikan harga ikan giling ini menunjukkan bagaimana tradisi kuliner khas Palembang memiliki pengaruh besar terhadap dinamika pasar lokal.
Menjelang Lebaran, permintaan terhadap ikan gabus dan tenggiri selalu meningkat tajam, seiring kebutuhan masyarakat menjaga tradisi menyajikan hidangan berbahan dasar ikan bagi keluarga dan tamu.
Bagi sebagian warga, mahalnya harga ikan mungkin menjadi beban tambahan menjelang hari raya. Namun di kota pempek ini, aroma adonan ikan yang mengepul dari dapur-dapur rumah tampaknya tetap sulit dipisahkan dari suasana Lebaran.**
Teks : Annisa N.A | Editor : Imron Supriyadi | Foto :Detiksumbagsel















