MWC NU Lawang Kidul Bagi Takjil di Pinggir Jalan, Silaturahmi di Senja Ramadhan

Berbagi takjil ini merupakan bentuk sederhana dari semangat kepedulian sosial yang ingin terus ditumbuhkan di tengah masyarakat.

AGAMA, Islam203 Dilihat

Senja belum sepenuhnya turun di Pasar Tanjung Enim, Sabtu sore, 7 Maret 2026. Lalu lintas di depan Masjid Assadah Pasar Tanjung Enim masih ramai. Sepeda motor dan mobil bergantian melintas di jalan yang menjadi nadi perdagangan kawasan itu.

Di tepi jalan, beberapa orang berdiri membawa kantong plastik berisi makanan berbuka. Mereka mengenakan sarung, peci, sebagian lagi berbaju koko. Satu per satu kendaraan yang melintas dipanggil dengan lambaian tangan.

“Silakan, Pak. Untuk berbuka,” ujar seorang lelaki sambil menyerahkan sebungkus takjil kepada pengendara motor yang berhenti sejenak.

Sore itu, jajaran pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Lawang Kidul turun langsung ke jalan. Mereka membagikan ratusan paket takjil kepada warga yang melintas di depan masjid tersebut. Kegiatan sederhana itu menjadi bagian dari tradisi berbagi pada bulan Ramadhan.

Di antara para pengurus yang ikut membagikan takjil tampak Ketua MWC NU Lawang Kidul, H Herli Cik Madan. Ia berdiri di pinggir jalan, sesekali menghentikan kendaraan yang melintas untuk menyerahkan paket berbuka.

Kantong plastik berisi makanan ringan, kurma, dan minuman itu cepat berpindah tangan. Para pengendara tampak menerima dengan senyum dan ucapan terima kasih sebelum melanjutkan perjalanan mereka.

Kegiatan itu juga diikuti oleh A Nizom, S.Ag, Salah satu Pengarah LAZISNU Kabupaten Muaraenim, serta sejumlah pengurus NU di Kecamatan Lawang Kidul. Tak ketinggalan seorang tokoh sepuh NU Muara Enim, Kiai Abdul Majid, turut hadir dan ikut membagikan takjil di jalan.

Terlihat Ketua MWC NU Lawang Kidul, H Herli Cik Madan, Baju Hijau (Korp Khas NU), Pengarah LAZIZNU Kabupaten Muaraenim, A Nizom, S.Ag serta tokoh sepuh NU Muara Enim, Kiai Abdul Majid, (baju puih paling kanan) turut hadir dan ikut membagikan takjil di jalan.

Menurut Herli Cik Madan, kegiatan berbagi takjil ini merupakan bentuk sederhana dari semangat kepedulian sosial yang ingin terus ditumbuhkan di tengah masyarakat.

Ia mengatakan, Ramadhan menjadi momentum bagi organisasi keagamaan untuk lebih dekat dengan warga sekaligus menumbuhkan budaya saling berbagi.

“Kami ingin menghadirkan Ramadhan yang membawa keberkahan bagi semua. Melalui kegiatan kecil seperti ini, kami berharap semangat berbagi dan kebersamaan dapat terus hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.

Sejak pukul empat sore hingga menjelang waktu berbuka, ratusan paket takjil itu habis dibagikan. Para pengurus tidak membeda-bedakan penerima. Siapa pun yang melintas—pengendara motor, sopir mobil, hingga pejalan kaki—berhak mendapatkannya.

Bagi sebagian orang, takjil mungkin hanya sekadar makanan pembuka puasa. Namun bagi mereka yang menerima di tengah perjalanan pulang, paket kecil itu sering kali terasa lebih dari sekadar hidangan. Ia menjadi tanda perhatian yang datang tanpa diminta.

Setelah kegiatan di tepi jalan usai, para pengurus NU itu beranjak meninggalkan halaman masjid. Senja semakin merapat. Lampu-lampu toko di Pasar Tanjung Enim mulai menyala.

Sebagian dari mereka menuju rumah Kiai Abdul Majid. Di sana, mereka melanjutkan kebersamaan dengan buka puasa bersama. Sebagian lainnya menuju kediaman H Herli Cik Madan yang juga membuka pintu rumahnya bagi para pengurus dan tamu.

Malam itu, pertemuan mereka tidak berhenti pada makan bersama. Ada tamu yang datang dari jauh: KH Imam Syafei. Ulama dari Batumarta, Kabupaten OKU Timur, itu dijadwalkan menjadi penceramah utama dalam peringatan Nuzulul Quran di Masjid Assadah Pasar Tanjung Enim.

Di ruang tamu yang sederhana, percakapan pun berlanjut—tentang Ramadhan, dakwah, dan kehidupan masyarakat yang terus berubah.

Sore tadi mereka berdiri di tepi jalan, membagikan takjil kepada orang-orang yang lewat. Malam ini mereka duduk bersama, menyambung silaturahmi. Di antara keduanya, Ramadhan seakan menjahit kembali relasi sosial yang kadang longgar oleh kesibukan sehari-hari.**

TEKS/FOTO : IMRON SUPRIYADI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *