
Musik Sholawat gaya Reggae Hamed Uye, dalam 9 bulan terakhir sedang trend di Media Sosial (medsos). YouTube menjadi platform utama yang memopulerkan sholawat gaya reggae Hamed Uye.
Salah satu unggahannya—“Full Album Sholawat Reggae – Hamed Uye – Rebbuz (Reggae Gambuz)”—sudah meraih lebih dari 510 ribu views, dan diunggah sekitar 9 bulan lalu dari tanggal data tersedia YouTube
Judul lain yang populer adalah “Rindu Muhamad Hadad Alwi Reggae – Rebbuz Ft Ziana Walidah” dan “Tombo Ati Reggae Viral – Rebbuz Ft Ziana Walidah,” menunjukkan adanya konten serupa yang juga mencatat keviralan-nya.
Di Instagram, Hamed Uye aktif membagikan konten dan kolaborasi—salah satunya tampak di akun @hamed_uye, sampai 9 September 2025, telah mengumpulkan sekitar 88 ribu pengikut Instagram.
Ini menunjukkan, gaya sholawat reggae yang dibawakan Hamed Uye REBBUZ telah diterima dengan antusias oleh komunitas online, terutama kalangan muda. Meskipun dalam
Data statitsiki
Sayangnya, hingga saat ini belum ada data survei yang secara khusus, mengukur berapa persen Gen Z yang menyukai sholawat reggae ala Hamed Uye REBBUZ. Namun, dengan melihat tren umum preferensi musik, kita bisa melihat estimasi yang terdata di sejumlah media sebagai berikut :
Tren Genre Musik Gen Z di Indonesia
1. Pop Tradisional Mendominasi (59%)
Berdasarkan Indonesia Gen Z Report 2024 dari IDN Research Institute, sekitar 59% responden Gen Z menyukai musik pop sebagai genre favorit mereka (Sumber : Dataloka.id)
2. Hip-Hop/Rap: 31%
Global Web Index (GWI) pada kuartal II 2022 mencatat bahwa 31% Gen Z memilih hip-hop atau rap sebagai genre kesukaan (Sumber : GoodStatsMalang Times)
3. Genre Regional/Islamic (Reggae, Dangdut, dll): < 1%
Data dari GWI juga menunjukkan bahwa reggae termasuk dalam genre yang sangat minoritas, hanya sekitar 1% dibanding seluruh genre musik lainnya yang dipilih Gen Z (Sumber : Dataloka.id)
Perkiraan Popularitas Sholawat Reggae ala Hamed Uye REBBUZ
Karena sholawat reggae adalah subgenre sangat spesifik di luar kategori pop atau hip-hop mainstream, popularitasnya kemungkinan jauh di bawah angka genre reggae secara umum.
Jika reggae menyumbang kurang dari 1% dari preferensi Gen Z, maka sholawat reggae seperti yang diperkenalkan oleh Hamed Uye REBBUZ mungkin menyentuh kurang dari 0,5%–1% dari total selera musik Gen Z.
Kesimpulan sementara, hingga kini (September 2025) Sholawat reggae ala Hamed Uye REBBUZ berada dalam ceruk sangat khusus—bukan mainstream dalam preferensi Gen Z.
Popularitasnya sejauh ini lebih terlihat lewat viralisasi di platform seperti YouTube dan TikTok, terutama di kalangan pengguna tertentu, bukan melalui survei umum. Estimasinya: kurang dari 1% Gen Z menyebut genre tersebut sebagai favorit.
Mengalun Santai
Terlepas lebih dan kurangnya dalam data di Medsos, Sholawat ala Uye REBBUZ ada sesuatu yang menarik ketika ketika saya mendengarnya. Musiknya berirama reggae. Mengalun santai, riang, mengajak kaki menghentak tanpa terasa.
Sholawat yang biasanya kita dengar di musholla, majelis taklim, atau pengajian, tiba-tiba menjelma menjadi irama tongkrongan. Ada beat Jamaica di situ, ada aroma Bob Marley, tapi liriknya doa dan cinta kepada Nabi Muhammad.
Pertanyaannya: apakah ruh sholawat hilang ketika ia menyeberang ke reggae? Ataukah justru semakin menemukan rumah barunya di hati anak-anak muda yang jarang mau singgah di majelis?
Sholawat itu doa.
Sholawat itu doa. Doa tidak pernah mengenal instrumen. Sholawat bisa diucapkan dengan suara lirih seorang ibu di dapur, bisa dinyanyikan dengan rebana di kampung, bisa juga dengan gitar akustik, bahkan dengan ritme digital. Yang menentukan bukan alatnya, melainkan hatinya. Kalau hati yang menabuh adalah hati yang rindu Rasulullah, maka apa pun nadanya tetap sah menjadi ibadah.
Hamed Uye REBBUZ mungkin tidak sedang sekadar bernyanyi. Ia sedang menjemput anak-anak muda yang semakin jauh dari sholawat. Ia berkata kepada mereka: “Ayo, ikut aku. Kau bisa bersholawat tanpa harus kehilangan dunia musikmu.”
Batanghari Sembilan: Sungai, Irama, dan Doa
Sumatera Selatan punya warisan irama: Batanghari Sembilan. Ia lahir dari denyut sungai, dari dendang rakyat yang hidup di tepian air. Ada kesedihan, ada kerinduan, ada harapan dalam alunan Batanghari Sembilan. Lagu-lagu rakyat yang seperti riak air—pelan, mendayu, mengalir mengikuti arus, tapi menyimpan tenaga yang besar.
Kalau reggae datang dari gelombang laut Karibia, maka Batanghari Sembilan datang dari sungai yang membelah tanah Sriwijaya. Bedanya bukan pada airnya, melainkan pada jiwa yang mengalir di dalamnya.
Kenapa tidak kita bayangkan sholawat yang dibawakan dengan irama Batanghari Sembilan? Sebuah sholawat yang khas Sumsel, yang lahir dari tanah sendiri, dari suara sungai sendiri, dari duka-lara rakyat sendiri. Sholawat Batanghari Sembilan akan lebih dekat dengan hati wong kito. Ia bukan pinjaman, melainkan kelahiran dari rahim budaya lokal.
Sholawat: Jembatan Tradisi dan Modernitas
Reggae sholawat ala Hamed Uye menunjukkan bahwa Islam tidak alergi pada musik dunia. Bahwa dakwah bisa menjelma dalam bentuk apa saja, sepanjang tidak menggadaikan ruhnya. Begitu juga Batanghari Sembilan. Kalau kita berani meraciknya dengan sholawat, kita sedang menulis sejarah baru: sejarah Islam yang bersenyawa dengan budaya Sumsel.
Bayangkan sebuah panggung. Ada anak muda memetik gitar, ada biola rakyat mengalun, ada gendang Palembang mengiringi. Lalu mereka bersama-sama menyanyikan “Shollu ‘alan Nabi Muhammad” dengan nada Batanghari Sembilan. Suaranya merdu, liriknya doa, iramanya rakyat. Apakah itu salah? Tidak. Justru di situlah Islam menemukan akar budayanya.
Sholawat tidak hanya milik Timur Tengah. Sholawat juga milik dusun-dusun di Semende, talang-talang di Muara Enim, tepian sungai Musi. Nabi tidak pernah melarang umatnya bernyanyi dengan nada lokal. Yang dilarang adalah ketika musik membuat kita lupa pada Allah.
Musik Halal, Musik Haram?
Seperti pernah dikatakan Cak Nun, bila ada pendapat yang mengharamkan musik dengan alasan bisa membuat lupa kepada Allah, maka sesungguhnya yang bermasalah bukan musiknya. Musik tidak punya kelamin, tidak punya agama, tidak punya kehendak untuk menyesatkan manusia. Yang punya masalah adalah hati manusia sendiri.
Analoginya : mislanya ketika ada kasus perkosaan, apakah penyebabnya karena laki-laki punya alat kelamin (penis?) Ataukah karena ada perempuan yang tidak menutup aurat? Apakah solusinya lalu harus memotong penis atau membunuh perempuan yang tidak berjilbab? Tentu tidak.
Persoalannya bukan pada organ tubuh atau pakaiannya, melainkan pada hati manusia yang dikuasai syahwat, yang mengedepankan ekor kebinatangan, sehingga lupa diri dan kehilangan kendali.
Begitu pula dengan musik. Kalau kemudian musik dianggap haram hanya karena bisa membuat lupa dengan Allah, maka pertanyaannya: bagaimana dengan jabatan, tahta, harta, atau wanita?
Bukankah jauh lebih banyak manusia yang justru tergelincir, bahkan hancur hidupnya, karena godaan harta, tahta, dan wanita? Apakah lantas harta, tahta, dan wanita harus diberangus?
Musik hanyalah alat, sebagaimana jabatan hanyalah amanah, harta hanyalah titipan, dan perempuan adalah makhluk Allah yang mulia. Semua kembali pada hati manusia. Kalau hatinya jernih, musik bisa menjadi kendaraan menuju Allah. Kalau hatinya kotor, maka kekuasaan dan harta pun bisa menjatuhkannya ke jurang kelalaian, tanpa musik sekalipun.
Persoalan: Pasar, Ruh, dan Komodifikasi
Tentu selalu ada risiko. Reggae sholawat bisa terjebak menjadi hiburan semata, kehilangan ruh. Batanghari Sembilan sholawat pun bisa diperdagangkan hanya untuk festival, menjadi komoditas pariwisata. Padahal sejatinya sholawat bukan tontonan, tapi tuntunan.
Di sini perlu kejujuran. Apakah kita berniat menjadikan sholawat sebagai jalan dakwah, atau sekadar untuk panggung hiburan? Apakah Batanghari Sembilan hanya dipakai demi branding budaya, atau sungguh-sungguh ingin menghidupkan ruh Islam di hati rakyat?
Kekuatan Lokal yang Menjadi Global
Sejarah Islam Nusantara selalu begitu: ia kuat karena menyerap budaya lokal, bukan memusnahkannya. Sunan Kalijaga menggunakan wayang. Sunan Bonang mencipta tembang Jawa. Di Aceh, sholawat berbaur dengan rapai. Di Minang, berwujud salawat dulang.
Maka di Sumatera Selatan, kenapa tidak lahir sholawat Batanghari Sembilan? Kalau reggae bisa mengantar sholawat ke telinga anak muda, maka Batanghari Sembilan bisa mengantar sholawat ke jiwa wong kito. Dan kalau ia lahir dengan tulus, siapa tahu ia akan melintasi dunia, menjadi identitas Islam Sumsel di mata global.
Bayangkan dunia mendengar: ada sholawat khas dari tepian Musi, iramanya mendayu seperti arus sungai, syairnya sederhana tapi menyayat hati. Itu bukan lagi sekadar musik. Itu adalah identitas, itu adalah doa, itu adalah Islam yang membumi.
Menjaga Ruh agar Tidak Padam
Tugas kita bukan sekadar menciptakan sholawat baru, melainkan menjaga ruh agar tetap hidup. Jangan biarkan ia terjebak pada komodifikasi pasar. Biarkan ia tetap sederhana, tetap lahir dari rakyat, tetap menjadi doa yang jujur.
Kalau reggae sholawat bisa hidup di kafe-kafe anak muda, biarlah Batanghari Sembilan sholawat hidup di dusun-dusun, di surau-surau kecil, di tepian sungai. Dari sana ia akan naik ke panggung besar, tapi tidak kehilangan akarnya.
Sholawat adalah cinta. Cinta tidak bisa dipaksakan, tidak bisa diperdagangkan. Ia hanya bisa mengalir, seperti sungai Batanghari Sembilan.
Jalan Sholawat Batanghari Sembilan
Hamed Uye REBBUZ membuka pintu dengan reggae. Sumatera Selatan bisa melanjutkan jalan itu dengan Batanghari Sembilan. Sholawat tidak lagi sekadar ritual, tapi menjadi irama hidup.
Ketika doa bertemu musik, ketika Nabi dipuji dengan irama lokal, ketika rakyat merasa budayanya dihargai, maka Islam akan semakin membumi.
Ingatlah: sungai tidak pernah memilih siapa yang mandi di dalamnya. Sungai hanya mengalir, memberi kehidupan. Begitu juga sholawat. Ia hanya ingin mengalir, masuk ke hati siapa saja yang mau menerima.
Dan mungkin, di tepian Batanghari Sembilan, kita akan menemukan wajah Rasulullah tersenyum, karena umatnya menemukan cara baru untuk mencintainya.**
Ponpes Laa Roib-Muaraenim, 09 September 2025














