
Ba’da Isyak di awal September 2025, saya berada di hadapan jamaah Masjid Al-Ikhlas, Desa Lingga, Tanjung Enim. Udara malam itu terasa semilir AC, keramiknya juga dingin. Masjid ini jauh lebih megah, dari sebelumnya ketika saya dulu juga sering singgah di masjid ini. Namun di balik kemegahan itu, saya menyimpan kegelisahan lama: kita membangun masjid begitu indah, tetapi sering lupa membangun manusianya.
Saya teringat data Kementerian Agama tahun 2023 yang mencatat lebih dari 800 ribu masjid dan mushalla tersebar di Indonesia. Angka ini terus bertambah.
Namun, pertanyaan kritisnya: berapa banyak masjid yang punya khatib muda, imam pelapis, kader remaja masjid, dan sistem kaderisasi? Apakah masjid kita hanya berhenti sebagai simbol fisik, atau menjadi pusat peradaban seperti di zaman Rasulullah?
Masjid Nabawi: Sekolah Kehidupan
Mari kita mundur ke abad ke-7, ke Masjid Nabawi di Madinah. Banyak orang membayangkan masjid hanya tempat shalat, padahal Rasulullah Saw mengelola masjid sebagai pusat multifungsi.
Di sana berlangsung pendidikan, musyawarah politik, manajemen ekonomi, pelayanan sosial, bahkan pengobatan. Masjid Nabawi adalah sekolah, parlemen, pusat logistik, sekaligus rumah singgah para pendatang.
Khatib dan imam di masa itu tidak lahir dari seleksi instan. Mereka terbentuk melalui pembelajaran rutin bersama Rasulullah. Mereka memahami konteks sosial, berani berkomunikasi dengan umat, dan memiliki akhlak yang terjaga. Itu sebabnya khutbah mereka menyentuh hati, bukan hanya telinga.
Fakta sejarah ini memberi inspirasi kuat bagi kami di Pondok Pesantren Laa Roiba: masjid harus kembali menjadi pusat kaderisasi, bukan sekadar pusat arsitektur. SKIM (Sekolah Khatib dan Imam) Laa Roiba adalah upaya kecil untuk menghidupkan tradisi besar itu.
Masjid Kita Hari Ini: Indah, Tapi Sepi Kaderisasi
Sebagai orang yang pernah mendampingi ratusan training ESQ, saya melihat pola yang berulang. Masjid kita bagus, lantai keramiknya licin, sound system-nya mahal, AC-nya dingin. Namun ketika khatib Jumat mendadak berhalangan, pengurus masjid kelimpungan. Imam cadangan sulit dicari. Remaja masjid sibuk mengurus media sosial, tapi tidak berani naik mimbar.
BACA ARTIKEL TERKAIT :
- Sekolah Khatib dan Imam Laa Roiba di Mulai di Masjid Al-Iklhas Desa Lingga
- Jemaah Masjid Al-Ikhlas Diminta Buka Mulut Tiga Jari, Mengapa?
- Sekolah Khatib & Imam La Roiba : Membaca Dakwah dari Akar Rumput
Masjid kita kaya fisik, miskin kaderisasi. Dana mudah terkumpul untuk cat tembok, tetapi sulit untuk pelatihan public speaking atau kursus khutbah. Kita lebih mudah membeli marmer Turki daripada mendanai workshop imam muda.
Inilah ketimpangan yang saya kira berbahaya. Sebab masjid tanpa manusia yang hidup hanya akan jadi monumen. Dan monumen tidak membimbing umat, hanya jadi latar selfie.
SKIM Laa Roiba: Menanam Benih Khatib dan Imam
SKIM Laa Roiba kami gagas sebagai jawaban praktis. Kami melatih remaja masjid, jamaah muda, siapa saja yang terpanggil untuk naik mimbar. Kurikulumnya meliputi teknik penyusunan khutbah, seni berbicara di depan umum, pengucapan kalimat yang hidup, dan manajemen emosi saat berkhutbah.
Kami ingin setiap peserta paham bahwa khutbah bukan sekadar membacakan teks. Khutbah adalah komunikasi. Teks itu harus bernyawa, harus menyentuh hati.
Seorang khatib harus tahu kapan meninggikan suara, kapan memberi jeda, kapan menatap jamaah agar pesan moralnya tertanam. Ini bukan teori belaka. Saya telah melihatnya dalam ratusan pelatihan ESQ: komunikasi yang baik bukan hanya transfer informasi, tetapi transfer energi spiritual.
Ilmu Komunikasi untuk Mimbar Masjid
Prof Jalaluddin Rakhmat, salah satu Cendekiawan Muslim Indonesia dalam buku Psikologi Komunikasi (1985) juga menekankan pentingnya empati dalam komunikasi efektif dan kredibilitas komunikator. Beliau pernah mengatakan: komunikasi itu bukan hanya soal pesan, tetapi juga soal konteks, kredibilitas, dan empati. Prinsip ini kami bawa ke SKIM Laa Roiba.
Kami ajarkan peserta bagaimana memulai khutbah dengan kalimat yang mengikat perhatian jamaah. Kami latih mereka menyusun argumentasi khutbah yang tidak hanya normatif, tetapi relevan dengan kehidupan sehari-hari: isu keluarga, ekonomi, lingkungan, bahkan teknologi. Kami ingatkan pula: khatib dan imam adalah role model. Gestur tubuh, pakaian, pilihan kata, semua harus mencerminkan akhlak.
Dengan demikian, SKIM bukan hanya pelatihan teknis, tapi juga pendidikan karakter. Kami ingin lahir khatib dan imam yang bukan sekadar pintar berbicara, tetapi juga berintegritas.
Pola Intensif, Bukan Seremonial
Kami menghindari pola pelatihan instan. Program ini kita lakukan tiga kali pertemuan seminggu, selama sebulan penuh. Kami ingin peserta punya jam terbang. Sebab latihan itu bukan tempelan, tapi proses pembiasaan.
Mengapa harus intensif? Karena khatib dan imam bukan keterampilan sekali jadi. Seperti belajar berenang atau memanah — sebagaimana hadis Rasulullah Saw — butuh latihan berulang, butuh guru yang mengawasi. Masjid yang punya khatib siap pakai adalah masjid yang menginvestasikan waktunya pada proses, bukan pada seremoni.
Belajar Manajemen Masjid dari Rasulullah
Masjid Nabawi punya sistem pembagian tugas yang rapi. Ada yang mengatur saf, ada yang mengatur tamu, ada yang mengatur logistik. Bahkan ketika Rasulullah mengutus sahabat ke berbagai daerah, beliau menugaskan mereka bukan hanya sebagai dai, tetapi juga sebagai imam dan pengelola komunitas.
Inilah manajemen masjid yang jarang kita tiru. Kita sibuk mempercantik kubah, tetapi jarang mempercantik sistem. Kita bangga dengan jumlah jamaah tarawih, tetapi jarang mengukur jumlah remaja yang siap jadi imam. Kita bangga dengan wakaf pembangunan fisik, tetapi jarang berpikir wakaf kaderisasi.
SKIM Laa Roiba ingin menggeser paradigma itu. Bahwa masjid yang kuat adalah masjid yang punya manusia-manusia terlatih. Bahwa khatib dan imam bukan pekerjaan sambilan, tetapi profesi mulia yang perlu investasi.
Relevansi SKIM dengan Tantangan Umat
Mengapa SKIM penting? Karena umat Islam di Indonesia sedang menghadapi krisis komunikasi moral. Banyak khutbah Jumat terasa kering, klise, dan jauh dari realitas jamaah. Banyak imam bagus bacaannya, tetapi kurang punya empati sosial.
Di sisi lain, anak muda kita haus figur. Mereka ingin melihat ustaz yang santun sekaligus fasih berbicara soal isu kontemporer. SKIM menjembatani kesenjangan ini. Kami latih remaja masjid agar melek isu, melek teknologi, dan punya kemampuan menyampaikan pesan Islam yang sejuk.
Jika ini berhasil, masjid akan kembali jadi pusat peradaban. Jamaah datang bukan hanya untuk shalat, tetapi juga belajar, diskusi, dan mendapatkan inspirasi.
Menyemai Cahaya Kata
Dalam setiap pembukaan SKIM, saya menyerahkan buku “Menyemai Cahaya Kata” sebagai simbol. Kata-kata itu ibarat benih. Jika disemai dengan benar, ia akan tumbuh jadi pohon kebaikan. Jika disemai asal-asalan, ia akan jadi gulma.
Kata-kata khatib adalah cermin kata-kata Rasulullah. Karena itu, kami inginkan peserta SKIM bukan hanya pandai membaca teks, tetapi juga memaknai teks. Mereka bukan hanya menyampaikan khutbah, tetapi menghidupkan ruh khutbah.
Arah Baru Masjid Kita
Saya yakin, jika paradigma ini menyebar, kita akan menyaksikan lahirnya generasi khatib dan imam baru. Masjid kita tidak lagi jadi museum ibadah, tetapi jadi laboratorium kepemimpinan. Kita tidak lagi memandang masjid hanya dari kubahnya, tetapi dari manusianya.
Rasulullah membangun masyarakat dari masjid. Kita pun bisa. SKIM Laa Roiba adalah langkah kecil, tetapi saya percaya setiap langkah kecil jika konsisten akan jadi gelombang besar.
Dari Masjid Al-Ikhlas ke Masjid Indonesia
Saya menulis ini bukan untuk memuji program sendiri, tetapi untuk mengajak kita semua merenung: apakah masjid kita sudah benar-benar berfungsi sebagaimana mestinya? Apakah kita hanya mengejar keindahan bangunan, atau juga keindahan akhlak? Apakah kita hanya menghitung jumlah jamaah, atau juga jumlah kader yang lahir?

Di Masjid Al-Ikhlas, kami memulai satu gerakan kecil. Semoga ini menginspirasi masjid-masjid lain di Nusantara. Karena kita punya warisan besar dari Rasulullah: masjid sebagai pusat pembelajaran, pusat kaderisasi, pusat peradaban. SKIM Laa Roiba hanya meneruskan jejak itu.
Jika kita serius, saya yakin 10-20 tahun ke depan kita tidak lagi bingung mencari khatib Jumat, imam tarawih, atau dai muda. Kita akan punya generasi baru yang siap memimpin umat. Dan masjid kita, insya Allah, bukan lagi sekadar bangunan indah, tetapi jantung kehidupan Islam di Indonesia. Wallahu a’lam.**
Pondok Pesantren Laa Roiba-Muaraenim, 9 September 2025


















