
Ada orang yang memilih hidupnya seperti menanam padi. Ia tidak tergesa, ia tahu airnya harus cukup, tanahnya harus subur, benihnya harus sehat. Dia paham, orang lapar akan menunggu, tapi tidak semua orang sabar menunggu musim panen.
Hasan Al-Banna adalah salah satunya. Ia menanam gagasan, bukan sekadar beras. Ia menanam kesadaran bahwa umat Islam tidak hanya butuh doa di mushola, tapi juga butuh harga diri di tengah bangsa-bangsa.
Hasan Al-Banna lahir di Mahmudiyah, Mesir, 1906. Sebuah kota kecil, tapi seperti kebanyakan kota kecil lain di dunia Islam waktu itu, ia adalah panggung besar bagi kolonialisme, kemiskinan, dan kehilangan arah. Dari ayahnya yang seorang ulama, Hasan belajar huruf-huruf Al-Qur’an, tetapi dari jalanan ia belajar bagaimana penjajahan tidak hanya menguasai tanah, tapi juga pikiran.
Dar al-Ulum — kampus tempat ia menempuh pendidikan — memberinya ilmu, tetapi rakyat di sekitar memberinya pertanyaan: “Mengapa kita kalah?” Dari situlah, ia tidak puas menjadi guru yang hanya mengajar di kelas.
Pada 1928, di Ismailiyah, ia mendirikan Ikhwanul Muslimin. Awalnya hanya enam orang pekerja yang ikut, tapi di hati Hasan, itu enam benih yang kelak bisa menjadi rimba.
Masjid sebagai Universitas Kehidupan
Hasan Al-Banna memulai dari tempat yang paling sederhana: masjid. Masjid baginya bukan sekadar tempat sholat. Itu kampus tanpa ijazah formal, tapi kurikulumnya menyentuh inti kehidupan.
Di situ ia bicara soal iman, politik, kesehatan, pendidikan, bahkan olahraga. Ikhwanul Muslimin lahir bukan dari meja rapat hotel berbintang, tapi dari tikar masjid yang kadang masih basah oleh air wudhu.
Ia memanfaatkan buletin, selebaran, ceramah — media yang mungkin dianggap primitif hari ini — tetapi justru efektif di masa itu. Setiap lembar selebaran adalah peluru ide yang ditembakkan ke hati orang-orang. Peluru itu bukan untuk melukai, tapi untuk membangunkan.
Ia mendekati para pemuda. Pemuda baginya seperti besi panas: bisa dibentuk sebelum dingin. Ia ajak mereka main bola, lalu di sela istirahat ia bicara soal peran umat. Ia tahu, ideologi tidak bisa disuapi seperti bubur panas, harus ditiup pelan-pelan agar masuk tanpa melukai lidah.
Strategi yang Tidak Sekadar Strategi
Hasan Al-Banna mengerti bahwa membangun umat itu tidak cukup dengan retorika. Harus ada struktur. Maka ia membangun organisasi Ikhwanul Muslimin seperti membangun rumah: ada pondasi (iman), ada tiang (pendidikan), ada atap (solidaritas sosial). Ia menyusun jenjang keanggotaan, melatih kader, mengatur keuangan, hingga merancang program sosial. Pendidikan adalah senjatanya. Ia tidak memisahkan antara belajar fiqh dengan belajar memperbaiki saluran irigasi. Sebab menurutnya, Islam itu tidak hanya di sajadah, tapi juga di sawah.
Kegiatan sosial menjadi wajah ramah Ikhwanul Muslimin. Klinik, sekolah, bantuan pangan — semua adalah bentuk dakwah yang bisa dirasakan langsung. Baginya, dakwah tidak cukup di lisan. Harus ada bukti di piring makan rakyat.
Antara Sunni dan Syiah: Sebuah Jalan Rapat
Banyak yang bertanya, bagaimana pandangan Hasan Al-Banna terhadap Syiah? Ikhwanul Muslimin lahir dari tradisi Sunni, tapi Hasan tidak menutup pintu dialog. Ia kritis, tetapi tidak memusuhi tanpa sebab.
Di beberapa sumber, ia disebut menegaskan perbedaan-perbedaan mendasar — soal kepemimpinan, tafsir sejarah, dan legitimasi pemerintahan. Namun, ia juga melihat pentingnya ukhuwah di tengah ancaman bersama.
Saya teringat ucapan seorang kawan tua di kampung: “Kalau rumah kita bocor, jangan ribut dulu soal cat tembok.” Dalam konteks umat Islam, kolonialisme dan kemunduran peradaban adalah kebocoran besar itu. Hasan memilih memperbaiki atap bersama, baru setelah itu bicara warna cat.
Tetapi realitas di lapangan tidak selalu ramah. Ikhwanul Muslimin kerap berhadapan dengan rezim Mesir. Gagasan yang ingin memerdekakan rakyat dari kebodohan sering dianggap ancaman oleh penguasa. Hasan Al-Banna akhirnya gugur ditembak, 1949. Ia mati muda, tapi meninggalkan jejak yang panjang.
Membaca Hasan Al-Banna Hari Ini
Bicara Hasan Al-Banna di tahun 2025 ini terasa seperti bercermin. Umat Islam hari ini punya masjid yang megah, ormas yang banyak, akses internet yang cepat. Tapi apakah kita punya kesadaran dan disiplin seperti yang ia tanamkan? Kita punya penceramah populer di YouTube, tetapi apakah kita punya guru yang mau mendengar keluhan nelayan atau petani di pinggir kota?
Ikhwanul Muslimin pernah menjadi magnet bagi orang-orang yang ingin menggabungkan iman dengan aksi sosial. Tapi magnet itu juga memicu kontroversi. Ada yang memuji sebagai kebangkitan Islam, ada yang mengkritik sebagai politisasi agama. Di sinilah letak pelajaran: setiap ide besar akan diuji, bukan hanya oleh lawan, tapi juga oleh kawan.
Dari Hasan Al-Banna untuk Desa-Desa Kita
Kalau Cak Nun bilang, umat Islam itu seperti orkes besar. Ada yang main biola, ada yang main drum, ada yang main suling. Tapi kalau tidak ada dirigen, bunyinya bisa kacau. Hasan Al-Banna mencoba jadi dirigen itu. Ia ingin nada iman dan nada keadilan berbunyi serempak.
Di desa-desa kita hari ini, banyak potensi seperti itu.
Masjid bisa jadi pusat pendidikan dan kegiatan sosial, bukan hanya tempat sholat lima waktu. Pemuda bisa diajak memikirkan kampung, bukan hanya gadget. Organisasi Islam bisa menyalurkan beasiswa, memperbaiki irigasi, atau melatih keterampilan kerja — seperti yang dilakukan Ikhwanul Muslimin di masa awal.
Pelajaran dari Jalan Sunyi
Hasan Al-Banna mengajarkan bahwa membangun umat itu seperti menanam pohon kelapa. Butuh waktu lama sebelum berbuah, tapi kalau sudah berbuah, hasilnya bisa dinikmati generasi setelahnya.
Sayangnya, zaman ini sering mengajarkan kita untuk menanam kangkung saja: cepat tumbuh, cepat dipanen, cepat dilupakan.
Ia juga mengajarkan bahwa kekuatan umat ada pada keseimbangan antara akal dan hati. Pendidikan tanpa cinta akan melahirkan kaku, cinta tanpa pendidikan akan melahirkan buta. Hasan menolak keduanya. Ia ingin umat ini pintar sekaligus penyayang, tegas sekaligus lembut.
Menutup Catatan
Kalau hari ini kita hanya mengenang Hasan Al-Banna sebagai tokoh sejarah, kita kehilangan separuh pelajaran. Pelajaran yang utuh adalah meniru semangatnya: membangun dari bawah, sabar menunggu panen, berani bicara kebenaran, dan merangkul perbedaan untuk tujuan bersama.
Di antara pusaran politik, perbedaan mazhab, dan godaan dunia modern, suara Hasan Al-Banna mungkin terdengar lirih. Tapi justru lirih itulah yang menguji: apakah kita masih mau mendengar, atau lebih suka mendengar teriakan yang memecah-belah?
Hasan Al-Banna mungkin sudah tiada. Tapi jika ide dan teladannya kita rawat, ia akan selalu hidup — di masjid-masjid kecil, di komunitas pemuda kampung, di hati mereka yang percaya bahwa Islam adalah rahmat, bukan ancaman. Bahwa iman adalah cahaya, bukan alat untuk membakar.
Dan seperti kata seorang teman saya yang gemar merenung di teras mushola: “Umat yang lupa sejarahnya seperti burung yang lupa sayapnya.” Hasan Al-Banna sudah memberi kita sepasang sayap. Tinggal, apakah kita mau terbang atau terus berjalan kaki.**
*)Penulis adalah Jurnalis dan Pengasuh Pondok Pesantren Laa Roiba Muaraenim.













