
Suatu hari, dalam satu ruang pengajian yang sederhana, saya bertanya, “Jika usia Nabi Muhammad SAW adalah 63 tahun, maka umur kita tinggal berapa?”
Pertanyaan ini bukan tentang statistik usia, bukan pula ancaman. Tapi tentang sesuatu yang sering kita lupakan: waktu. Ia tidak berjalan, ia melesat. Seperti anak panah yang dilepaskan dari busurnya, ia tak akan kembali.
Kita hidup dalam dunia yang ramai memperingati tahun baru dengan gegap gempita. Tapi kita sering lupa bahwa pergantian tahun bukan hanya tentang pesta dan kembang api. Ia juga adalah pengingat: umur kita sedang menuju ujung. Dan tak seorang pun tahu, kapan gerbong hidupnya akan mencapai stasiun terakhir.
Malam itu, Sabtu, 5 Juli 2025, malam 1 Muharram 1447 H, saya duduk di Masjid Nur Arafah, Muara Enim. Tak ada panggung besar. Tak ada mikrofon yang memekakkan telinga. Hanya ada jamaah yang tulus, suara rebana yang lirih, dan harum wewangian sederhana khas majelis taklim. Di antara mereka, saya berkata pelan, “Jika tahun bertambah, maka umur justru berkurang.”
Dalam tradisi para arif, malam seperti ini adalah waktu yang tepat untuk satu hal: tajdîd an-niyyah. Memperbarui niat.
Niat adalah Ruh dari Amal
Imam al-Ghazali pernah berkata bahwa amal tanpa niat ibarat tubuh tanpa ruh. Ia bergerak, tapi mati. Kita bisa bersedekah, shalat, berpuasa, berdakwah. Tapi jika niatnya bergeser—dari Allah kepada ego, dari ikhlas kepada riya’—maka amal-amal itu hanya jadi aktivitas kosong. Sebuah aktivitas fisik yang tidak punya gema spiritual.
Rasulullah SAW sudah memperingatkan, “Innamal a‘maalu bin-niyyaat…” Sesungguhnya amal tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya.

Bagi saya, ini bukan hanya hadis fikih. Ini adalah fondasi kehidupan spiritual. Karena dalam hidup, yang menentukan bukan hanya apa yang kita lakukan, tapi untuk siapa kita melakukannya.
Amal yang Kehilangan Jiwa
Kita hidup dalam zaman yang ironis. Amal saleh menjamur, tapi kehilangan ruh. Shalat jadi rutinitas mekanik. Puasa jadi budaya. Sedekah jadi konten. Dakwah jadi branding. Amal yang baik tetap dilakukan, tapi kehilangan kesadaran mengapa ia dilakukan.
Di sinilah pentingnya tajdîd an-niyyah. Para ulama salaf mengajarkan bahwa niat harus diperbarui, bahkan puluhan kali dalam sehari, karena hati manusia mudah goyah. Imam Ibnu Qayyim menyebut bahwa niat yang murni bisa tercampur dengan ujub, riya’, atau bahkan niat-niat tersembunyi yang tidak kita sadari.
Syekh Ibnu ‘Utsaimin menasihati, “Barangsiapa yang lalai memperbarui niat, maka amalnya akan layu seperti bunga yang dibiarkan tanpa air.”
Shalat dan Peduli Sosial
Saya ingin mengajak kita merenung sejenak. Bukankah dalam shalat, di akhir tahiyat, kita menoleh ke kanan dan kiri sambil mengucap salam? Itu bukan gerakan tanpa makna.
Itu simbol bahwa ibadah vertikal (habl minallah) harus berakhir pada kepedulian horizontal (habl minannas). Bahwa setelah kita bersujud kepada Allah, kita dituntut memberi kasih kepada sesama.
Kalau shalat kita tidak membuat kita peduli pada yatim, miskin, tetangga yang lapar, maka perlu ditinjau ulang: “Apakah kita benar-benar sudah shalat?”
Kisah dan Cermin
Saya pernah menceritakan kisah seorang ahli ibadah. Ia rajin shalat, puasa, zikir. Tapi ketika bertanya kepada seseorang yang tengah membaca daftar ahli surga, namanya tak ditemukan.
“Aku telah beribadah puluhan tahun!” protesnya.
Lelaki itu menjawab, “Tapi engkau tidak pernah peduli pada sesamamu.”
Kisah ini bukan isapan jempol. Ini adalah cermin. Kita bisa menjadi manusia ibadah, tapi gagal menjadi manusia peduli.
Maka malam itu, saya tidak hanya bicara tentang niat, tapi juga tentang infak, sedekah, dan kepedulian. Kita perlu mengingat ayat ini:
“Sesungguhnya kamu diajak untuk menafkahkan (hartamu) di jalan Allah. Tapi di antara kamu ada yang kikir. Barang siapa yang kikir, sesungguhnya ia kikir terhadap dirinya sendiri. Allah Mahakaya, sedang kamulah yang fakir…”
(QS. Muhammad: 38)
Kematian Tak Butuh Izin
Salah satu kegelisahan saya sebagai guru adalah pertanyaan ini: “Apakah anak-anak kita siap memandikan jenazah kita?”
Dan seringkali, jawabannya membuat saya tercekat. Banyak dari kita—orang tua modern—yang sibuk membekali anak-anaknya dengan keterampilan dunia: bahasa asing, teknologi, ekonomi. Tapi lupa mengajarkan mereka satu hal penting: mendoakan kita saat kita mati.
Kita terlalu percaya bahwa hidup akan lama. Padahal kematian tak pernah mengetuk pintu.
Sungguh, kematian itu datang seperti kebiasaan. Yang terbiasa maksiat, wafat dalam maksiat. Yang terbiasa bangun malam, wafat dalam ibadah. Seorang khatib bisa wafat di mimbar, seorang artis bisa wafat di panggung. Semuanya sesuai dengan apa yang dibiasakan.
Pondok dan Amal Jariyah
Di Pondok Pesantren Laa Roiba, kami sedang membangun Masjid R. Hasan. Bukan sekadar bangunan fisik, tapi rumah pendidikan untuk anak-anak yatim dan dhuafa. Di sana mereka belajar menjadi imam, khatib, dan bahkan memandikan jenazah.
Inilah amal jariyah sejati. Sesuatu yang tetap hidup, bahkan saat kita sudah tak bernyawa.
Saya katakan kepada para jamaah: “Jika suatu hari kelak kalian bertanya di akhirat, ‘Ustadz, kenapa tidak mengajak kami ke surga?’—maka inilah jawabannya. Saya sedang mengajak hari ini. Melalui wakaf, infak, dan cinta kepada sesama.”
Hijrah Tak Cukup Seremonial
Bulan Muharram sering dirayakan dengan obor, bubur suro, lemangan, dan tabuik. Itu semua tradisi yang indah. Tapi tradisi hanyalah wadah. Esensinya adalah hijrah hati—berpindah dari gelap ke terang, dari sibuk dunia ke sadar akhirat, dari egosentrisme ke pengabdian.
Kalau hijrah hanya berhenti pada atribut, maka kita kehilangan makna perjalanan spiritual. Islam adalah agama makna. Dan makna itu hanya hidup bila kita memulai dari niat yang tulus.
Waktu Tak Pernah Diam
Akhirnya, saya mengajak diri saya dan para jamaah untuk merenung: waktu tidak diam. Ia bergerak. Ia bukan jam di dinding. Ia adalah detik dalam darah kita. Ia adalah denyut di nadi yang semakin melemah.
Kalau kita masih diberi waktu untuk bertobat hari ini, mengapa menunggu ajal?
Kalau masih bisa memberi, mengapa menunggu kaya?
Kalau bisa mengajak ke surga, mengapa memilih diam?
Mari kita perbarui niat. Tajdîd an-niyyah. Isi sisa umur kita dengan amal terbaik. Karena waktu hanya memberi kepada mereka yang tahu bahwa hidup adalah ladang, dan akhirat adalah panennya.
Tungkal-Muaraenim, 6 Juli 2025



















