PALEMBANG | KabarSriwijaya.NET — Relawan sipil BarataYudha kembali bergerak. Setelah Pilkada usai, mereka tak lantas bubar. Mereka kembali menyambangi Fraksi PKS DPRD Palembang, menyodorkan setumpuk harapan rakyat.
Senin siang, 7 Juli 2025. Dua anggota Fraksi PKS DPRD Kota Palembang duduk berhadapan dengan sekelompok orang yang tak datang dengan spanduk atau teriakan. Mereka datang membawa berkas, data, dan suara-suara kecil dari gang-gang sempit Kota Palembang.
Kelompok itu dikenal sebagai BarataYudha, relawan pendukung pasangan Yudha-Bahar dalam Pilkada 2024 lalu. Meski pasangan itu kandas di bilik suara, BarataYudha memilih jalan lain: menjadi pengawal aspirasi rakyat, pasca-pemilu.
Di ruang Fraksi PKS, Ketua Fraksi Hj. Yulfa Cindosari dan anggota Muhammad Hibbani menerima mereka. Sisanya—lima anggota fraksi lain—berhalangan hadir.
“Kami mohon maaf karena tidak bisa lengkap. Tapi percayalah, substansi pertemuan ini tetap kami bawa penuh hormat,” kata Yulfa membuka audiensi.
Yulfa dan Hibbani bukan orang asing bagi BarataYudha. Dalam Pilkada kemarin, mereka sama-sama berkeringat memenangkan pasangan Yudha-Bahar. Bahar sendiri adalah Ketua DPD PKS Palembang. Tak heran jika pertemuan siang itu lebih mirip reuni, ketimbang forum formal antara politisi dan konstituen.
Mewariskan Program dari yang Kalah
Dedek Chaniago, tokoh utama BarataYudha yang akrab disapa Jenderal DC, tak banyak basa-basi. Ia memulai langsung pada intinya: menyodorkan dua bentuk aspirasi kepada Fraksi PKS—tertulis dan lisan.
Dalam dokumen tertulis, BarataYudha mengusulkan agar 9 program unggulan Yudha-Bahar tetap diperjuangkan, meski pasangan itu kalah. Program-program itu antara lain:
- Berobat gratis
- Sunat gratis
- Kuliah gratis
- Internet gratis
- Ambulan gratis
- Pelatihan keahlian
- Fogging gratis
- Sembako murah
- Dana operasional RT Rp 50–100 juta per tahun
Tak hanya itu, mereka juga meminta Fraksi PKS membuka akses pokok-pokok pikiran (pokir) dewan bagi aspirasi warga yang diwakili jaringan BarataYudha di 18 kecamatan, 107 kelurahan, dan lebih dari 4.000 RT.
“Kami bukan datang membawa amarah, tapi membawa ingatan. Ini janji yang pernah kita tawarkan bersama. Jangan biarkan ia menjadi bangkai politik,” ujar Dedek.
Politik Etis di Tengah Apatisme
BarataYudha mengambil jalan yang tak lazim di tengah iklim politik pasca-Pilkada yang biasanya penuh sinisme. Mereka memilih jalur diplomasi dan forum resmi. Tanpa poster. Tanpa pengeras suara.
“Kami ingin menjadikan parlemen sebagai rumah rakyat, bukan menara gading,” ucap Dedek.
Bagi mereka, perjuangan politik tak berhenti pada hasil pemilu. Justru dimulai saat suara rakyat perlu dijaga, agar tak larut dalam kepentingan elite.
Dedek menyebut gerakan ini sebagai bentuk baru dari partisipasi sipil yang etis, berdasar data, dan bermartabat. Di akhir pertemuan, ia menyerahkan naskah aspirasi resmi kepada Ketua Fraksi PKS.
Respon PKS: Bersama, Tapi Realistis
Yulfa menyambut baik usulan tersebut. Ia mengakui banyak dari program yang ditawarkan BarataYudha sejatinya pernah juga diperjuangkan oleh PKS, bahkan sebelum Pilkada berlangsung.
“Program ini sejalan dengan visi kami. Tapi tentu, kami berjuang dalam koridor hukum dan strategi politik yang tepat,” ujarnya.
Ia menyinggung pengalaman Fraksi PKS yang sebelumnya bersikap tegas dalam penolakan Raperda RTRW yang merugikan masyarakat.
“Soal tapal batas yang tadi disebut, kami pernah bersuara dan akan terus memperjuangkannya,” kata Yulfa.
Muhammad Hibbani menambahkan bahwa inisiatif BarataYudha bisa menjadi triger bagi komunikasi antarfraksi. Menurutnya, kekuatan di legislatif terletak pada kemampuan membangun solidaritas lintas fraksi—bukan sekadar jumlah kursi.
“Kami ini legislator, bukan eksekutor. Tapi dengan banyak kawan, kami bisa pengaruhi kebijakan. Aspirasi ini menjadi bahan bakar moral kami,” ucap Hibbani.
Menyusuri Fraksi Demi Fraksi
PKS adalah fraksi ketiga yang mereka datangi. Sebelumnya, BarataYudha juga sudah menemui Fraksi Demokrat dan Fraksi PAN. Target mereka jelas: mengonsolidasikan suara-suara alternatif yang tidak masuk dalam pemerintahan Ratu Dewa–Prima Salam (RDPS).
BarataYudha menyadari mereka bukan siapa-siapa dalam struktur formal. Tapi justru karena itu mereka merasa perlu menjadi penyambung suara yang tak tertampung.
“Kami akan terus berjalan. Ini bukan tentang siapa menang, tapi siapa yang terus menjaga janji kepada rakyat,” kata Dedek.
Di luar ruang Fraksi PKS, Dedek dan para relawan berpelukan sebelum beranjak pergi. Tak ada gegap gempita. Tapi pertemuan itu menyisakan jejak: bahwa demokrasi tak harus berteriak untuk bisa terdengar.**
TEKS : RELEASE | EDITOR : IMRON SUPRIYADI

















