Merawat Kedaulatan Musik Indonesia di Era Digital

Forum ini menghadirkan tokoh-tokoh industri musik lintas generasi untuk membahas satu hal penting

Di sebuah ruang kafe yang akrab di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, percakapan tentang masa depan musik Indonesia mengalir hangat pada Kamis sore (4/3). Di CC Cafe at Nancy’s Place, tempat yang dikenal sebagai ruang pertemuan kreatif para pekerja seni, para pelaku industri musik berkumpul dalam Forum Diskusi Kedaulatan Musik Indonesia yang digagas komunitas Cita Svara Indonesia.

Pertemuan ini bukan sekadar diskusi santai antarinsan musik. Ia menjadi ruang refleksi menjelang Hari Musik Nasional yang diperingati setiap 9 Maret—sebuah momentum tahunan untuk menimbang kembali posisi musik Indonesia di tengah arus industri global yang terus berubah.

Mengangkat tema “Beda Masa Satu Rasa”, forum ini mempertemukan pelaku industri lintas generasi. Di tengah perbincangan itu, satu pertanyaan mengemuka: bagaimana menjaga kedaulatan musik Indonesia ketika teknologi digital mengubah hampir seluruh lanskap produksi, distribusi, dan konsumsi musik?

Sorotan utama datang dari Giring Ganesha yang hadir sebagai pembicara kunci. Mantan vokalis band Nidji ini menilai industri musik masa kini menuntut kapasitas yang jauh lebih luas dibandingkan era sebelumnya.

Menurutnya, musisi masa kini tidak lagi cukup hanya mengandalkan kualitas musikal. Mereka juga harus memahami cara membangun narasi karya, memanfaatkan media sosial, hingga mengembangkan ekosistem bisnis kreatif di sekitar musik mereka.

Forum ini menghadirkan tokoh-tokoh industri musik lintas generasi untuk membahas satu hal penting

“Seorang musisi sekarang harus memahami storytelling, strategi media sosial, hingga pengembangan bisnis seperti merchandise dan kolaborasi dengan berbagai brand. Tantangan industri musik saat ini jauh lebih kompleks,” ujar Giring.

Namun kompleksitas itu sekaligus membuka ruang peluang baru. Kehadiran platform digital seperti YouTube dan Spotify telah mengubah peta distribusi musik secara drastis. Musisi dari berbagai daerah kini memiliki jalur yang lebih terbuka untuk menjangkau pendengar di tingkat nasional bahkan global.

Salah satu fenomena menarik yang mengemuka adalah kebangkitan lagu-lagu berbahasa daerah. Di era streaming, musik dengan identitas lokal justru menemukan audiens yang luas.

“Sekarang kita melihat fenomena luar biasa. Musik berbahasa daerah memiliki peminat sangat besar. Di platform streaming, jumlah penontonnya bisa mencapai ratusan juta,” kata Giring.

Bagi pemerintah, penetapan Hari Musik Nasional memiliki tujuan strategis. Selain meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap karya anak bangsa, momentum ini juga diharapkan menumbuhkan rasa percaya diri para insan musik untuk terus berkarya dan bersaing di tingkat regional maupun internasional.

Namun penguatan industri musik, menurut Giring, tidak bisa berjalan sendiri. Ekosistem yang sehat hanya dapat tumbuh melalui kerja sama berbagai pihak.

“Memajukan industri musik membutuhkan kerja sama pemerintah, komunitas, pelaku industri, dan media. Tanpa kolaborasi, ekosistem tidak akan kuat,” ujarnya.

Dari sisi komunitas, semangat yang sama disampaikan oleh Harry ‘Koko’ Santoso yang mewakili Cita Svara Indonesia. Ia menilai Indonesia memiliki kekayaan musikal yang sangat besar—baik dari segi ragam genre maupun keberagaman budaya yang menjadi sumber inspirasi bagi para musisi.

Menurutnya, keragaman tersebut justru menjadi kekuatan yang dapat membawa musik Indonesia lebih jauh di panggung dunia.

“Musik memajukan bangsa adalah landasan dasar terbentuknya Cita Svara Indonesia. Kebhinekaan musik kita sesungguhnya adalah kekuatan besar untuk mendunia,” ujarnya.

Komunitas ini diharapkan menjadi ruang pertemuan bagi para pelaku musik untuk saling terhubung, berkolaborasi, sekaligus menciptakan iklim kreatif yang sehat. Dengan demikian, para musisi dapat lebih leluasa menghasilkan karya yang tidak hanya kuat secara artistik, tetapi juga memiliki daya saing global.

Harry juga mengingatkan bahwa derasnya arus budaya global menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan. Tanpa upaya memperkuat identitas musikal sendiri, selera publik perlahan dapat bergeser oleh dominasi budaya populer dari luar.

“Perlahan tapi pasti, arus budaya luar dapat menggeser selera publik jika kita tidak memperkuat identitas musik kita sendiri. Karena itu kedaulatan musik menjadi penting,” katanya.

Forum diskusi ini sekaligus menjadi ajang perkenalan lebih luas bagi Cita Svara Indonesia yang digagas sejumlah tokoh musik lintas generasi, antara lain Connie Constantia, Peter Frits Momor, Jimmy Turangan, Maria Elizabeth, Tony TSA, serta Gideon Momongan.

Sebagian besar dari mereka telah menjadi bagian dari perjalanan panjang industri musik Indonesia sejak dekade 1980–1990-an. Kini mereka mencoba merumuskan kembali arah masa depan ekosistem musik nasional.

Dari diskusi itu mengemuka sejumlah gagasan: penguatan perlindungan karya musik, optimalisasi distribusi digital, hingga strategi membuka pasar global bagi karya musisi Indonesia.

Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, satu kesadaran tampak menyatukan para peserta forum: musik Indonesia memiliki modal budaya yang kuat untuk berbicara lebih lantang di panggung dunia—asal para pelakunya mampu menjaga irama kolaborasi.**

Teks/foto : Release/bs  | Editor : Imron Supriyadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *