Menjaga Jejak Lama di Beranda Istana Kesultanan Palembang Darussalam

Temui Sultan Palembang, Budayawan Muara Enim Silaturahmi ke Istana Adat Bahas Pelestarian Budaya Sumatera Selatan

Sore itu, Minggu, 15 Februari 2026, halaman Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam tampak lebih lengang dari biasanya. Di beranda istana, Gusti Sajid Al Akbar, budayawan asal Muara Enim, datang membawa niat yang ia sebut sederhana: bersilaturahmi sekaligus merawat ingatan tentang adat dan sejarah.

Ia diterima langsung oleh Sultan Mahmud Badaruddin IV, yang bergelar RM Fauwaz Diraja. Sejumlah tokoh adat mendampingi: Dato’ Pangeran Suryo Febri Irwansyah (Vebri Al Lintani), Dato’ Pangeran Suryo Kemas Ari Panji, Iman Kasta, Raden Genta Laksana, serta Ketua Kasta Sumatera Selatan yang baru, Sayid Khalid Asseggaff.

“Saya senang karena ini menambah lagi kawan,” ujar Sultan. Bagi dia, pertemuan seperti itu bukan sekadar seremoni. Dialog kebudayaan, katanya, bisa menjadi ruang tukar-menukar informasi ihwal adat di Sumatera Selatan. “Ini memperkuat jaringan antara Kesultanan Palembang Darussalam dengan tokoh-tokoh adat di daerah.”

Gusti Sajid datang dengan agenda yang lebih panjang dari sekadar temu muka. Ia ingin membuka kembali lembar-lembar sejarah yang, menurutnya, belum sepenuhnya digali. “Kalau ada peninggalan bersejarah, saya buka, tidak mungkin saya tutup,” katanya.

Ia menyebut Sriwijaya dan Majapahit sebagai dua simpul besar yang perlu terus ditautkan dalam narasi sejarah lokal—termasuk jejak yang ia yakini tersimpan di kawasan Sungai Aek Enim.

Baginya, sejarah tak boleh berhenti pada nama besar. Ia menyodorkan gagasan tentang simbol-simbol kultural: tanjak yang ia sebut berakar dari tradisi Kesultanan Palembang dan wilayah perairan Sungai Enim; kopiah hermas dan kopiah resam yang dulu dipakai rakyat kebanyakan. “Kalau bisa kita jalin, cari pelatihannya di daerah mana, kita buat. Kita jadikan ikon untuk adat dan budaya kita,” ujarnya.

Ia datang membawa sejumlah benda yang ia sebut pusaka: naskah kuno di atas tanduk kerbau atau cula badak, serta kopiah hermas. Bagi pensiunan TNI itu, benda-benda tersebut bukan sekadar artefak, melainkan pengingat bahwa modernitas tak harus memutus akar. “Sekarang tetap modern, tapi jangan lupa membudayakan budaya kuno,” katanya.

Di ruang dalam istana, Sultan memperlihatkan sejumlah peninggalan Kesultanan: stempel Sultan Mahmud Badaruddin II, Alquran tinta emas warisan Kesultanan Turki Usmani, serta jubah yang pernah dikenakan sang sultan.

Pertemuan itu mungkin tak mengubah peta sejarah dalam sekejap. Namun, di antara percakapan tentang tanjak, kopiah, dan jejak kerajaan lama, ada upaya kecil untuk memastikan bahwa ingatan tak sekadar menjadi arsip—melainkan tetap hidup dalam percakapan hari ini.**

TEKS : AHMAD MAULANA  | EDITOR : IMRON SUPRIYADI  | FOTO : DBN PALEMBANG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *