Di Pagi Sya’ban, DWP PUPR Muaraenim Menyapa Pesantren Laa Roiba

Di bulan inilah, amal-amal kebaikan dilipatgandakan

Rabu pagi, 11 Februari 2026. Jarum jam mendekati pukul 09.45 WIB ketika Masjid Julaibib Pondok Pesantren Laa Roiba, Muara Enim, sudah dipenuhi para santri. Mereka duduk berbaris rapi, sebagian mengenakan seragam madrasah, sebagian lagi berpeci.

Dari jenjang MI, MTs, hingga MA, ratusan santri itu berkumpul di Masjid Julaibib—ruang utama yang menjadi jantung kegiatan pesantren.

Hari itu, mereka menyambut tamu: rombongan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Muara Enim.

Di barisan depan penyambutan, tampak Pendiri dan Pimpinan PP Laa Roiba, KH Taufik Hidayat, S.Ag., M.I.Kom., didampingi Wakil Mudir Wartawan Effendi, S.Sos., Ustadz Zami, Ustadz Beni Marsita, serta para ustadz lainnya.

Sambutan berlangsung sederhana, tanpa protokoler berlebih. Namun suasananya hangat—sejenis pertemuan dua dunia: birokrasi dan pesantren, kerja administratif dan kerja ruhani.

Ruang Sunyi di Tengah Kesibukan

Masjid Julaibib pagi itu terasa teduh. Cahaya matahari tak pula terlalu panas karena masih pagi. Namun pantulan sinarnya menembus sela-sela jendela, jatuh di antara ruang kosong masjid yang menembus ke wajah para tamu dan santri yang hadir pada saat itu.

Di hadapan mereka, para ibu Dharma Wanita duduk rapi seperti dalam sebuah pengajian. Wajah-wajah yang sehari-hari akrab dengan agenda kantor dan kegiatan organisasi, kini berhadapan dengan dunia pendidikan Islam yang sederhana.

Ketua DWP PUPR Muara Enim, Siti Zaenab, kemudian menyampaikan sambutan. Suaranya tenang.

“Kami berterima kasih atas sambutan yang hangat dari keluarga besar Pondok Pesantren Laa Roiba. Kehadiran kami ke sini untuk berbagi santunan, sekaligus menumbuhkan rasa empati di lingkungan Dharma Wanita PUPR Muara Enim. Semoga semua yang kami lakukan mendapat keberkahan dari Allah SWT,” ujarnya.

Foto Bersama di Halaman PP Laa Roiba, Tim Dharma Wanita – Jajaran PP Laa Roiba

Sementara KH Taufik Hidayat, S.Ag, M.I, Kom, Pendiri dan Pemimin PP Laa Roiba menjelaskan, Bulan Sya’ban, diyakini sebagai bulan penuh keberkahan menjelang Ramadhan.

Kunjungan ini, menurut Ustadz Taufik menjadi motivasi bagi semua, khususnya bagi umat yang ingin berbenah diri secara lahir dna batin, di Bulan Syakban, menjelang Bulan Suci Ramadhan,

”Di bulan inilah, amal-amal kebaikan dilipatgandakan. Silaturahmi bukan sekadar kunjungan formal, melainkan ikhtiar menyambung nilai, agar apa yang kita lakukan mendapat keberkahan,” ujar Ustadz Taufik.

Doa yang Dikumandangkan Bersama

Selepas sambutan, KH Taufik Hidayat mengajak seluruh hadirin menundukkan kepala. Suasana mendadak hening. Tidak ada suara selain desir kipas angin dan lantunan pelan yang mulai terdengar.

Surah Al-Fatihah dibacakan bersama.

Doa itu ditujukan untuk seluruh jajaran Dharma Wanita PUPR Muara Enim—agar diberi kesehatan, kelapangan rezeki, kemudahan dalam menjalankan tugas, serta keberkahan dunia dan akhirat. Terutama di bulan Sya’ban yang oleh banyak kalangan disebut sebagai bulan persiapan ruhani menuju Ramadhan.

Bagi pesantren, doa adalah bahasa paling universal. Ia melampaui struktur organisasi, jabatan, atau latar belakang sosial. Dalam ruang itu, semua duduk setara—sebagai hamba.

 Santunan dan Jejak Kepedulian

Kunjungan tersebut juga diisi dengan penyerahan bantuan sembako kepada pihak pesantren. Bantuan itu diperuntukkan bagi para santri yatim dan dhuafa binaan PP Laa Roiba.

Tak ada seremoni panjang.

Paket-paket sembako diserahkan secara simbolis. Kamera mengabadikan momen, namun yang lebih penting adalah makna di baliknya: empati yang diusahakan menjadi tindakan nyata.

Pukul 10.45 WIB, kegiatan ditutup dengan foto bersama. Rombongan Dharma Wanita berdiri berdampingan dengan para pengasuh dan santri di halaman PP Laa Roiba. Senyum merekah di wajah-wajah yang berbeda latar, tetapi dipertemukan oleh niat berbagi.

Usai acara, aktivitas pesantren kembali berjalan seperti biasa. Santri kembali ke kelas. Para ustadz melanjutkan pengajaran. Rombongan tamu pun beranjak.

Namun di pagi Sya’ban itu, setidaknya ada satu hal yang tertinggal: kesadaran bahwa empati tak lahir dari wacana semata. Ia tumbuh dari keberanian untuk hadir, duduk bersama, dan saling mendoakan.**

TEKS / FOTO : IMRON SUPRIYADI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *